Forum tersebut disiapkan untuk merumuskan cetak biru (blueprint) serta strategi keluar (exit strategy) demi mempertahankan posisi Kaltim sebagai salah satu kekuatan olahraga nasional.
Gagasan ini digulirkan tokoh olahraga senior Kaltim yang juga mantan pejudo nasional sekaligus Ketua Harian PB Judo, Achmad Husry. Usulan tersebut pun mendapat respons positif setelah dibahas bersama Ketua KONI Kaltim, Rusdiansyah Aras.
Saat dikonfirmasi, Rusdiansyah Aras membenarkan rencana pelaksanaan forum tersebut. Menurutnya, diskusi akan menghadirkan sejumlah narasumber yang kompeten di bidang olahraga.
Selain Achmad Husry, forum juga akan menghadirkan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kaltim Rasman Rading, pakar olahraga Rohandy, serta Ketua Pengprov Bowling Kaltim Rusman Yakub.
“Undangan sudah mulai disebar oleh KONI dan panitia dari LeKop. Kami berharap, minimal 75 persen dari total undangan yang disebar bisa hadir, itu sudah sangat bagus untuk menghasilkan dinamika pikiran yang kaya,” ujar Rusdi sapaan akrabnya kepada awak media, Rabu (27/5/2026).
Ia menegaskan, seluruh hasil pemikiran, rekomendasi dan kajian teknis dari diskusi ini nantinya akan disumbangkan secara resmi sebagai rekomendasi kerja bagi jajaran pengurus KONI Kaltim masa bakti 2026–2030 yang akan datang.
Lebih jauh, Rusdi mengurai secara detail latar belakang sosiologis dan teknis di balik inisiasi diskusi ini. Menurutnya, arah strategis olahraga prestasi Kaltim menuju PON XXII/2028 di Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT), serta klaster pendukung di Jakarta, kini berada pada momentum yang sangat krusial.
“Dengan adanya transisi kepemimpinan organisasi ke depan serta dinamika fiskal daerah, Benua Etam dihadapkan pada tantangan besar. Kita harus berani memetakan strategi agar harga diri dan tradisi posisi papan atas Kaltim di tingkat nasional tetap terjaga,” urainya
Dijelaskannya, KONI Kaltim bersama LeKop mencatat sedikitnya lima poin analisis strategis yang akan dibedah secara mendalam dalam diskusi pada 2 Juni mendatang.
Berbeda dengan edisi sebelumnya, pelaksanaan PON 2028 akan dibagi ke dalam tiga klaster besar, yakni NTB, NTT, dan Jakarta. Kondisi tersebut membuat manajemen kontingen menjadi lebih kompleks.
Biaya akomodasi, transportasi, hingga pemulihan (recovery) atlet diperkirakan meningkat, sehingga diperlukan pembentukan sub-satuan tugas (subsatgas) di masing-masing klaster sejak dini.
Di sisi lain, fluktuasi Dana Bagi Hasil (DBH) daerah menuntut efisiensi anggaran berbasis output. Paradigma pembinaan olahraga pun harus bergeser dari kuantitas menuju kualitas. Anggaran akan difokuskan pada cabang olahraga (cabor) yang memiliki sistem pembinaan akuntabel dan terukur.
Kemitraan dengan pihak ketiga, seperti LeKop, diarahkan untuk menyusun indikator performa berbasis data ilmiah.
Untuk menyiasati keterbatasan anggaran, Kaltim juga diwajibkan menerapkan seleksi superketat pada babak kualifikasi atau Pra-PON. Kebijakan tersebut menitikberatkan pada pengiriman nomor tanding maupun atlet yang secara statistik berada di zona medali, bukan sekadar lolos kuota.
Rumpun cabang olahraga bela diri, seperti gulat, kempo, pencak silat, taekwondo, karate, tarung derajat, dan muaythai, selama ini menjadi penyumbang utama medali emas Kaltim. Secara historis, cabor tersebut menyumbang sekitar 60 hingga 70 persen total medali emas.
Karena itu, sektor bela diri akan didorong menjadi lumbung utama medali dengan target moderat akumulatif sebanyak 70 emas, sembari tetap menyesuaikan nomor pertandingan Olimpiade sesuai arahan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora).
Ajang Porprov VIII di Paser pada akhir tahun nanti akan dijadikan laboratorium utama pembinaan atlet. Hasil Porprov akan disaring berdasarkan data objektif tanpa kompromi politik.
Selain itu, pengoptimalan sport science dan sport intelligence wajib dilakukan untuk mengukur kapasitas fisik dasar serta kematangan mental atlet sebelum memasuki pemusatan latihan (TC) desentralisasi jangka panjang.
Menutup penjelasannya, Rusdi menegaskan perubahan peta jalan olahraga tersebut menjadi ujian nyata bagi keberlanjutan prestasi Kaltim.
“Dengan kepengurusan baru yang nantinya akan melanjutkan estafet organisasi, fondasi yang kita letakkan hari ini harus bertumpu pada transparansi, objektivitas data, dan integrasi kuat antara KONI, Dispora, serta Pengprov Cabor. Karakter petarung Benua Etam hanya bisa bersinar di NTB-NTT jika kita berani mengambil keputusan taktis yang rasional dan efisien mulai sekarang,” pungkasnya.
Editor: Erwin