Hal itu disampaikannya pada Rapat Kerja Provinsi (Rakerprov) ICF Kaltim yang berlangsung di Hotel Ibis pada Sabtu (23/5/2026).
Satu diantara fokus utama transformasi ini adalah perombakan total pada program kerja Bidang Pembinaan dan Prestasi (Binpres).
Jadi menjelaskan, sistem pembinaan atlet saat ini telah dirancang untuk saling terintegrasi secara berjenjang, mulai dari kompetisi tingkat kabupaten/kota, tingkat provinsi, hingga puncaknya di Kejuaraan Nasional (Kejurnas).
"Kami ingin semua atlet dari tingkat kabupaten memiliki jalur yang jelas dan berkesempatan tampil menjadi atlet nasional," kata Radjagukguk.
Untuk mewujudkan integrasi tersebut, PB ICF kini memperketat pengawasan terhadap seluruh agenda balap sepeda di daerah. Radjaguguk meminta agar seluruh event resmi.
Diantaranya termasuk Kejuaraan Daerah (Kejurda) hingga Pekan Olahraga Provinsi (Porprov), wajib dilaporkan secara resmi ke pengurus pusat.
Pelaporan ini sangat krusial karena setiap kompetisi resmi yang bergulir di daerah akan dihitung ke dalam sistem poin nasional para atlet.
"Makanya kami minta semua terintegrasi. Ibarat sebuah pohon, akarnya adalah para pengurus ICF di tingkat kabupaten dan kota. Tanpa akar yang kuat di daerah, pohon prestasi nasional tidak akan bisa tumbuh," tegas Radjaguguk.
Selain integrasi kompetisi, ICF juga membuat terobosan baru dengan membuka program latihan bertajuk transfer of knowledge (transfer pengetahuan).
Melalui program ini, para penggiat sepada dan atlet di daerah diberikan kesempatan untuk menggelar latihan bersama dengan Tim Nasional (Timnas) balap sepeda Indonesia.
Dengan langkah ini, Jadi berharap mampu mengikis kesenjangan kualitas sirkuit, teknik, dan metode latihan antara pusat dan daerah, sekaligus memotivasi para atlet lokal untuk menembus skuad merah putih di masa depan.
Editor: Aspian Nur