Langkah pertama yang akan dilakukan Alsiyus adalah membenahi tata kelola organisasi, mulai dari pendataan aset, evaluasi persoalan internal, hingga memetakan kebutuhan masing-masing cabang olahraga. Seluruh cabor nantinya juga diminta menyusun proposal kegiatan secara rinci agar pengelolaan anggaran berjalan transparan dan sesuai aturan.
“Semua harus jelas item per item karena anggaran yang keluar harus bisa dipertanggungjawabkan,” tegas Alsiyus kepada Korankaltim.com, Selasa (12/5/2026).
Dalam waktu dekat KONI Kubar akan mengunjungi tempat latihan atlet dan cabang olahraga untuk melihat kondisi di lapangan, termasuk kesiapan atlet menghadapi agenda olahraga mendatang. Prestasi tidak cukup hanya mengandalkan semangat atlet, tetapi harus ditopang pembinaan yang terukur dan dukungan anggaran yang memadai.
Alsiyus menyoroti besaran bonus bagi atlet berprestasi di Kubar yang dinilai masih perlu dievaluasi yang mana bonus untuk peraih medali emas di Kubar saat ini berada di angka Rp30 Juta sementara di Mahakam Ulu disebut telah mencapai sekitar Rp75 Juta.
Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian agar atlet yang telah berjuang membawa nama daerah mendapat penghargaan yang lebih layak. Karena itu dalam waktu dekat ia berencana mengajukan hearing dengan DPRD untuk membahas berbagai kebutuhan olahraga daerah, termasuk pembinaan cabang olahraga, dukungan anggaran hingga peningkatan bonus atlet.
“Bagaimana mau menuntut atlet meraih prestasi kalau ketika mereka menang apresiasi yang diberikan masih belum maksimal. Ini yang akan kami perjuangkan,” tegasnya.
Selain itu, Alsiyus mengungkapkan persiapan Kubar menuju Pekan Olahraga Provinsi Kalimantan Timur juga mendapat dukungan anggaran dari pemerintah daerah dan dari informasi yang diterima nilainya berada dikisaran Rp10 Miliar.
Dukungan anggaran tersebut menunjukkan keseriusan Pemerintah Kabupaten Kutai Barat dalam mendorong kemajuan olahraga daerah. Selain itu, ia juga berharap KONI Kubar ke depan dapat memiliki kantor permanen sendiri agar tidak terus bergantung pada tempat sewa.
“Informasi yang saya dengar, semoga tidak salah, kurang lebih sekitar Rp10 Miliar. Kami juga berharap KONI ke depan punya kantor sendiri agar pembinaan dan konsolidasi organisasi bisa berjalan lebih maksimal,” tutupnya.
Editor: Aspian Nur