Ketua Panitia Dhanur Dwijatmiko yang juga bergelar Pangeran Mangkupati dari Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura menjelaskan, turnamen ini lahir dari keresahan para praktisi biliar di Kalimantan Timur khususnya Kutai Kartanegara, terhadap minimnya ruang kompetitif bagi atlet-atlet muda dan potensial.
“Banyak bibit unggul yang seharusnya bisa kita optimalkan, tetapi belum memiliki iklim turnamen yang baik untuk mengasah skill dan mental bertanding mereka,” ujar Koko, sapaan akrab Dhanur Dwijatmiko kepada Korankaltim.com, Minggu (25/1/2026) malam tadi.
Melalui format open handicap, para pemain dengan level menengah dapat merasakan langsung atmosfer pertandingan melawan pemain dengan tingkat dan pengalaman yang lebih tinggi. Hal tersebut dinilai penting sebagai proses pembelajaran agar atlet lokal mampu bersaing di level yang lebih kompetitif ke depannya.
“Ini menjadi pembelajaran langsung bagi mereka untuk meningkatkan kemampuan, terutama mental bertanding, sehingga ke depan siap menghadapi player dengan handicap yang lebih tinggi,” ujar Koko lagi.
Turnamen ini juga menjadi wujud kolaborasi antara dunia olahraga dan pelestarian budaya. Sultan Cup Kaltim Open digelar atas kerja sama dengan Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, yang menempatkan nilai-nilai sejarah dan budaya sebagai bagian penting dari penyelenggaraan event.
“Kami ingin para pemain biliar juga memahami sejarah dan budaya Kesultanan Kutai Kartanegara merupakan akar yang harus tetap diagungkan,” sebut Koko.
Sultan Cup 2026 merupakan pelaksanaan perdana dan diharapkan dapat menjadi agenda berkelanjutan. Panitia pun berharap Sultan Cup Kaltim Open 2027 dapat kembali digelar dengan skala yang lebih besar dan kualitas yang semakin meningkat, sebagai bagian dari upaya membangun ekosistem biliar yang sehat dan berprestasi di Kalimantan Timur.
“Harapan kami turnamen ini bisa berlangsung secara sustain dan nilainya terus ditingkatkan, termasuk dari sisi hadiah, agar semakin memotivasi para player,” tutup Koko.
Editor: Aspian Nur