Manajer pelatnas panahan, Fredy Rosandi, optimistis dengan adanya Perpres tentang Peningkatan Prestasi Olahraga sebagai pengganti Perpres Program Indonesia Emas (Prima). Menurutnya langkah itu membuat PB makin mudah menyusun try out. Namun, dia masih menyimpan kekhawatiran Kemenpora bekerja lamban.
“Sejauh ini, kami dari panahan ketika mengajukan program seperti uji coba atau training camp dari Satlak Prima sih seminggu beres. Kami mengajukan, evaluasi, sama sidang, kemudian diserahkan ke Kemenpora. Nah biasanya di Kemenpora tuh (yang lama),” dia mengeluhkan.
Fredy mengusulkan agar Kemenpora memiliki personel yang memahami cabang olahraga prestasi. Menurutnya, itu bisa mencegah proposal abal-abal dan mempersingkat waktu verifikasi. “Misalnya, panahan ada orang panahan, badminton, dan mereka yang menguasai di Kemenpora. Untuk bantu mengevaluasi tapi dibantu oleh orang Kemenporanya. Jadi prosesnya dipercepat,” dia menambahkan.
Mantan manajer pelatnas angkat besi, Alamsyah Wijaya, berharap pemotongan birokrasi anggaran dari Kemenpora langsung ke PB akan membuat try out dan pemenuhan akomodasi lebih lancar. Namun, dia mengingatkan agar PB memahami mekanisme dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
“Kami apresiasi keputusan pemerintah terkait anggaran yang langsung diberikan kepada pemerintah. Tetapi akan ada laporan standar APBN dan itu tidak semua PB mengerti, jadi perlu ada perbantuan administrasinya. Kalau masalah KONI saya rasa orang yang bisa berdiskusi kan. Yang penting komunikasi. Kalau komunikasinya arogan sih susah,” kata Alamsyah. (dts)