Wakil Ketua I IPSI Kaltim, Ego Arifin, menyampaikan bahwa pihaknya kini fokus pada pembinaan atlet muda hasil evaluasi dari PON Bela Diri 2025 di Kudus.
Menurutnya, sejumlah pesilat potensial telah menunjukkan performa menjanjikan dan menjadi modal penting menuju BK PON untuk dua tahun mendatang.
“Kita realistis, target kemarin tidak ada, tapi alhamdulillah satu medali emas, karena sebagian besar atlet masih di level junior,” kata Ego pada Kamis (30/10/2025).
“Tapi capaian itu sudah sesuai dengan target Dinas dan menjadi bahan evaluasi pembinaan kita ke depan,” sebutnya.
Ego menjelaskan, hasil PON Bela Diri di Kudus menjadi bahan evaluasi penting bagi IPSI Kaltim.
Winner bersaudara, Iqbal Chandra dan Dinda juga bakal kembali diturunkan dalam multievent tertinggi di Indonesia tersebut.
Salah satu atlet muda yang menonjol adalah Iqbal, yang diprediksi bakal memperkuat kontingen Kaltim pada PON XXII/2028 mendatang.
Selain Iqbal, ada beberapa nama lain yang juga masuk radar pembinaan jangka menengah, seperti Fitri dan Anisa
Namun, Iqbal diketahui tidak tampil di PON Bela Diri karena baru saja menyelesaikan pertandingan di ajang Asia dan masih dalam kondisi pemulihan.
“Iqbal ini juara pada kejuaraan ditingkat Asia, tapi memang tidak bisa tampil karena baru selesai tanding. Namun secara kemampuan dia bagus, dan tetap masuk dalam pantauan kami,” katanya.
Menurut Ego, sebagian besar atlet Kaltim saat ini sedang berada pada fase transisi dari junior ke senior, sehingga wajar bila performa mereka belum sepenuhnya stabil di ajang nasional.
“Kalau dilihat, mereka sebenarnya sudah matang secara teknik. Tapi secara mental bertanding di level senior masih perlu waktu. Di PON Bela Diri kemarin saja ada yang bisa sampai final tapi belum bisa maksimal,” jelasnya.
Kendati demikian, Ego menilai sejumlah atlet sudah mulai menunjukkan kedewasaan dalam bertanding. Mereka mampu mengevaluasi kesalahan dan memahami strategi di atas gelanggang.
“Bagusnya, mereka tahu di mana letak kesalahannya. Artinya, kesadaran itu sudah muncul. Itu penting untuk perkembangan mereka,” imbuhnya.
Ego juga menyoroti adanya perubahan peraturan pertandingan dalam cabang pencak silat yang kini diterapkan secara nasional.
Menurutnya, sistem penilaian baru membuat pertandingan menjadi lebih dinamis dan sulit diprediksi.
“Sekarang ini, meski selisih angka bisa sampai 10 atau 20 poin di babak kedua, belum tentu yang tertinggal kalah. Aturannya memungkinkan pertandingan berbalik dengan cepat,” ungkapnya.
Perubahan sistem ini, lanjut Ego, mengharuskan atlet lebih dewasa dalam membaca situasi dan mengambil keputusan saat bertanding.
“Tinggal bagaimana kedewasaan atlet dalam memanfaatkan peluang. Mereka harus bisa membaca kondisi dan momentum di lapangan,” tegasnya.
Ke depan, IPSI Kaltim akan terus memantau perkembangan para atlet muda melalui program latihan berkelanjutan dan seleksi ketat menuju Pra-PON.
“Kita sudah punya stok atlet yang potensial. Sekarang tinggal memoles mereka supaya matang saat waktunya tiba,” tutupnya.
Editor: Erwin