Hal ini pun disadari Komite Olahraga Nasional Indonesia Kalimantan Timur (KONI Kaltim) yang merasakan hal itu terjadi pada atlet-atlet Benua Etam saat berlaga di PON XXI/2024 di Aceh-Sumatera Utara lalu.
“Kami akan bersinergi dengan sport science soal mental, karena sebenarnya Kaltim punya SDM (Sumber Daya Manusia) yang luar biasa, tapi itu belum terkoordinir di kepengurusan KONI,” papar Rusdi kepada Korankaltim.com Kamis (17/10/2024).
Karena itu nantinya sport science bisa masuk sehingga bisa mengawal atlet dari awal mulai junior hingga ke jenjang senior. Karena itu pada setiap even terutama PON, para atlet sudah on the track dan tidak ada lagi masalah terkait dengan mental tersebut.
Selama ini diakui Rusdi sport science baru dilibatkan saat ada event padahal idealnya sport science ini digunakan sejak junior atau awal. “Saat mau event baru dilibatkan, padahal seharusnya sejak awal. Karena itu nantinya kalau ada pelaksanaan kejuaraan nasional (kejurnas) junior, sports science sudah harus mendampingi,” tegasnya.
“Sama halnya dengan kejuaraan daerah (kejurda) junior dan senior, mereka bisa terlibat. Sebelumnya kan mereka masuk Pemusatan Latihan Daerah (Pelatda) enam bulan, kemudian bersiap ke PON,” imbuhnya.
Rusdi menginginkan sport science bisa membersamai karena selama ini mereka tak mengira sport science sangat berpengaruh pada mental tanding atlet. Sport science sangat penting karena tak lagi hanya mengandalkan insting dan prediksi, tapi harus menggunakan metode yang jelas.
KONI juga akan mewajibkan digelarnya kejurda junior minimal satu tahun sekali, yang kemudian disusul dengan kejurda senior. “Even besarnya ada Porprov (Pekan Olahraga Provinsi) dengan batasan usia. Atlet yang dapat emas di PON lalu, tidak boleh lagi ikut Porprov,” sebut Rusdi.
Editor: Aspian Nur