Ada 1.034 taekwondoin kadet dan pra kadet yang akan bertanding, berasal dari Kalimantan Timur (Kaltim), Kalimantan Tengah (Kalteng), Kalimantan Selatan (Kalsel), Kalimantan Barat (Kalbar), Kalimantan Utara (Kaltara) dan Sulawesi Tengah (Sulteng).
Kepala Bidang Pembinaan Prestasi Pengurus Besar Taekwondo Indonesia (Kabid Binpres PB TI) Brigjen TNI Anggara Sitompul kepada Korankaltim.com menjelaskan, peserta yang bertanding terhitung kecil. “Kalau saya lihat animo peserta taekwondo yang ada ada sekitar 1.034, itu masih kecil sebenarnya, karena dibatasi,” ujar Anggara disela pertandingan Rabu (24/7/2024) hari ini. “Inikan pertandingan yang diselenggarakan oleh Komite KONI untuk tingkat pelajar. Kalau di taekwondo disebut kadet dan pra kadet, nanti untuk tingkat SLTP nya disebut junior,” jelasnya.
Untuk tingkat kadet dan pra kadet taekwo ditiap provinsi sebenarnya ada ribuan namun yang bisa datang ke Samarinda hanya sekitar 1.034 atlet saja.
Meskipun begitu, pria yang juga menjabat sebagai Komandan Korem (Danrem) 091/ASN ini, tetap melihat adanya agenda ini memberikan dampak yang baik terutama untuk pembinaan olahraga yang memang harus dimulai sejak usia dini. “Ini bagus, karena memang untuk peningkatan prestasi olahraga itu harus dimulai dari situ, dari pra kadet, kadet kemudian junior, baru masuk ke senior,” jelasnya.
Melihat banyaknya minat, Anggoro berharap setiap daerah bisa ikut menyelenggarakan even serupa, bahkan dengan kapasitas peserta yang jauh lebih banyak. Pengkaderan perlu dilakukan dari tingkat bawah untuk merealisasikan atlet yang bermain di Olimpiade membawa nama Indonesia.
Sementara Ketua Umum TI Kaltim Aidin S Hadi mengatakan, even ini bisa mnejadi modal awal atlet usia dini dalam menambah jam terbang, dari pada hanya sekadar berlatih.
“Ini juga bisa menambah jam terbang mereka. Setelah dikembalikan ke klub kami pantau apakah ada evaluasi di masing-masing klub,” jelas Aidin.
Setelah evaluasi beberapa atlet yang dinilai memiliki potensi akan dibawa ke Pengprov TI Kaltim, dipersiapkan ke jenjang yang lebih tinggi.
Editor: Aspian Nur