IOC mengatakan pengakuan tersebut sebagai pelanggaran terhadap Piagam Olimpiade karena melanggar integritas teritorial Komite Olimpiade Nasional Ukraina.
Dengan pembekuan itu berarti ROC tidak berhak beroperasi sebagai Komite Olimpiade Nasional dan tidak boleh menerima dana apa pun dari gerakan Olimpiade.
IOC menambahkan mereka nantinya juga akan memutuskan apakah atlet Rusia dapat berkompetisi sebagai atlet netral di Paris 2024.
ROC sendiri menyebut skorsing tersebut sebagai keputusan kontraproduktif lainnya dengan motivasi politik yang jelas.
IOC pada awalnya tidak memberikan sanksi kepada ROC setelah invasi tersebut, tetapi Rusia telah dilarang berkompetisi sebagai negara di cabang olahraga atletik sejak November 2015 setelah doping yang disponsori negara tersebut terungkap.
Skorsing doping Rusia dicabut pada bulan Maret, namun Dewan Atletik Dunia memutuskan negara ini akan tetap dilarang di masa mendatang karena perang di Ukraina.
IOC telah berada di bawah tekanan yang konsisten untuk melarang atlet-atlet Rusia dan Belarusia bertanding bahkan dibawah bendera netral sejak invasi dimulai.
Namun Maret 2023 lalu IOC mengatakan kepada federasi-federasi olahraga mereka harus mengizinkan para atlet dari negara-negara tersebut untuk bertanding tanpa membawa nama negara alias netral.
Ukraina sendiri telah mengancam akan memboikot Olimpiade tahun depan di Paris jika larangan penuh terhadap atlet Rusia dan Belarusia tidak ditegakkan.
"Ini adalah keputusan yang penting," kata Andriy Yermak, kepala kantor kepresidenan Ukraina yang menambahkan olahraga tidak bisa lepas dari politik dan menuduh Rusia menggunakan atlet sebagai propaganda.
Saat ini, sanksi IOC berarti tidak ada acara olahraga internasional yang dapat diselenggarakan di wilayah Rusia atau sekutunya, Belarus, sementara bendera, lagu kebangsaan atau simbol nasional lainnya dari kedua negara tidak boleh digunakan.
Awal pekan ini, badan sepak bola Eropa, UEFA sudah membatalkan rencana untuk mengikutsertakan kembali tim nasional U-17 Rusia dalam Kejuaraan Eropa U-17 tahun depan setelah mendapat penolakan dari berbagai asosiasi sepakbola nasional.
Editor: Aspian Nur