Bersamaan dengan kehebatan Mike Tyson, petinju asal New York, Amerika Serikat, prestasi Pino pun dianggap setara dengan Si Leher Beton, julukan Mike Tyson dan disebut-sebut bakal jadi pengganti petinju dunia tersebut karena kehebatannya di tingkat Asia Tenggara.
Sayangnya prestasi putra pertama dari petinju Indonesia Daniel Bahari itu tak berlanjut sampai akhirnya memilih untuk beralih menjadi promotor tinju juga asisten sang ayah.
Lama tak terdengar namanya, secara mengejutkan pria yang berusia 51 tahun itu kini ternyata ada di Kota Samarinda, seiring dengan dipimpinnya Pengurus Provinsi Persatuan Tinju Amatir (Pengprov Pertina) Kaltim oleh H Ismail Bolong periode 2021-2025 yang terpilih dalam Musda Pertina bulan lalu.
Ya, pria asal Denpasar, Bali, tersebut ditunjuk jadi pelatih atlet-atlet tinju Benua Etam menuju PON XXI/2024 di Aceh dan Sumatera Utara.
Pino dipastikan jadi pelatih kepala di Pertina hingga berakhirnya PON 2024 mendatang.
Sabtu (27/11/2021) akhir pekan tadi Pino menjalin kesepakatan dengan Pertina Kaltim untuk jadi pelatih.
“Saya ke Bali menemui Pino dan senang dia mau menjadi pelatih di Kaltim sampai PON selesai nanti,” kata Ismail kepada Korankaltim.com Minggu (28/11/2021) petang kemarin.
Ismail menegaskan Pertina sudah harus bersiap menghadapi PON sejak sekarang mengingat persaingan di tinju nasional saat ini sangat ketat. Kekecewaan karena hanya satu petinju meraih medali pada PON XX/2021 di Papua jadi dasar Pertina Kaltim merekrut Pino jadi pelatih.
“Dari situ saya terlecut untuk meningkatkan prestasi petinju Kaltim. Jangan sampai Kaltim tak bisa dapat hasil lebih baik di Aceh dan Sumut. Saya sudah bilang beberapa waktu lalu, kalau saya ingin Kaltim sedikitnya dapat 5 emas di PON mendatang,” tegas Ismail lagi.
Tak mau mengungkap berapa nilai kontrak Pino, yang pasti menurut Ismail Pino sudah berkomitmen untuk meningkatkan prestasi tinju Kaltim di PON dan kalau memenuhi keinginan kontraknya akan diperpanjang.
“Petinju Kaltim yang akan berlaga di Pra-PON dan PON akan latihan di sasana milik Pino Bahari di Bali,” jelas Ismail.
Sementara Pino Bahari sendiri mengatakan, dirinya termotivasi untuk lebih semangat dan fokus mengangkat prestasi tinju Kaltim di ajang nasional, bahkan internasional.
“Saya akan maksimalkan waktu yang ada untuk mematangkan persiapan petinju ke PON,” tegas Pino.
Pino akan memulai tugasnya menjaring potensi petinju di Kaltim saat pelantikan pengurus yang rencananya dihelat minggu ketiga Januari 2022 mendatang yang dibarengi dengan Open Tournament. Di ajang ini, petinju luar daerah dipastikan hadir dan akan dipantau kemampuannya. Kalau memang berpotensi, maka akan direkrut menjadi petinju Kaltim.
“Persiapan ke PON tak panjang, jadi harus dilakukan dari sekarang. Mudahan dari kejuaraan di Kaltim nanti, ada banyak petinju yang bisa kami asah kemampuannya,” ujar pemilik Sasana Cakti Gibor dan Cakti Bali Pino Bahari ini.
Pino sendiri saat ini di Bali dikenal sebagai ketua Yayasan Pino Bahari Indonesia (YPBI), wadah dimana para petinju Bali digodok untuk tampil di event-event daerah.
Pino sendiri akan mempersiapkan adiknya, Cillo Bahari, untuk menjadi petinju Kaltim di PON Aceh-Sumut.
“saya akan memperlihatkan bagaimana saya bekerja di Kaltim. Saya senang dihargai di Kaltim dan itu akan saya buktikan,” tutup Pino.
Editor: Aspian Nur