Berlaga di di GOR STT GIDI, Kabupaten Jayapura, sejak 9 hingga 13 Oktober 2021 dan harus bersaing dengan 20 provinsi yang ambil bagian di cabang olahraga ini, atlet-atlet Benua Etam nyatanya percaya diri dan meraih emas dari nomor Embu Beregu Putri, Embu Berpasangan Putri Yudansha I-Dan, Embu Berpasangan Campuran Kyukenshi dan Embu Beregu Campuran, memastikan tim Kaltim jadi juara umum dengan total empat emas, dua perak dan dua perunggu, meninggalkan Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Bali yang sama-sama mendapat dua emas.
Ada cerita menarik dibalik sukses kempo membawa pulang emas emas yang jadi bagian penting dari posisi 7 Besar Kaltim di klasemen akhir raihan medali PON XX/2021.
Ketua Persaudaraan Shorinji Kempo Indonesia (Perkemi) Kaltim Iskandar kepada Korankaltim.com menjelaskan, sukses kempo memang jadi kejutan besar di PON XX Papua. Tahun 2008 saat PON XVII berlangsung di Kaltim sebenarnya kempo juga jadi juara umum namun meraih tujuh emas, kemudian menurun pada PON XVIII/2012 di Riau dengan dua emas.
“Terus terang ini diluar dugaan, karena atlet kami bisa membawa pulang empat emas dan jadi juara umum, mengulang sukses tahun 2008 lalu,” ujar Iskandar.
Satu diantara beberapa kunci keberhasilan meraih empat emas di Papua menurut Iskandar adalah rasa persaudaraan yang besar diantara atlet, pelatih dan ofisial serta pengurus Perkemi Kaltim.
“Perkemi ini berbeda dengan cabang olahraga lain, kalau yang lain pakai kata Persatuan, kami pakai Persaudaraan, jadi ikatan saudaranya sangat terasa, itu juga jadi satu kunci keberhasilan kami terus mendapat medali setiap berlaga di PON,” papar Iskandar.
Keberhasilan Kaltim juara umum kempo di Papua menurut Iskandar juga membuat Pengurus Besar (PB) Perkemi terkejut. “Mereka juga bingung kenapa Kaltim bisa juara umum,” ungkapnya.
Kempo sendiri sudah melakukan persiapan panjang, sejak Juni 2021 hingga jelang berangkat ke Papua. “Dan ada satu bocoran yang kami dapatkan sebelum PON, yaitu atlet yang bertanding tidak boleh berteriak, jadi kami saat latihan praktekan itu. Sebenarnya sangat sulit, karena namanya cabang olahraga ini berteriak jadi kekuatan atlet saat bertanding, tapi tiba-tiba ada peraturan tidak boleh dan dilarang karena alasan menghindari penyebaran Covid-19 melalui udara. Tapi atlet Kaltim berhasil mengikuti peraturan itu dengan baik sampai akhirnya meraih empat emas. Provinsi lain masih ada atletnya yang berteriak saat bertanding, seperti NTT, jadi poin mereka dikurangi,” papar Iskandar.
Karena itulah menurutnya, kedekatan dengan pengurus pusat ikut andil bagi Kaltim jadi juara umum karena mendapat informasi lebih dulu dibanding provinsi lain.
“NTT itu targetnya 10 emas dan juara umum tapi gagal, justru Kaltim yang juara umum padahal kami hanya mengikuti 9 nomor dari total 17 yang dipertandingkan. Kami tak pernah muluk mematok target dan tidak pernah minta banyak dengan KONI Kaltim, focus latihan dan hasilnya ini yang kami dapat,” ujarnya.
“Yang pasti kami dari Perkemi mengucapkan terima kasih kepada masyarakat Kaltim untuk doanya sampai kami dapat empat emas dan juara umum. Ketua KONI Kaltim H Zuhdi Yahya juga sangat membantu kami karena beliau dulu pernah jadi ketua umum Perkemi Kaltim. Terima kasih kami untuk semua yang mendoakan dan kerja keras atlet diatas matras,” tutup Iskandar.
Editor: Aspian Nur