Diketahui, tiga medali itu diperolehnya yakni, pada sesi 1 kualifikasi compound women, sesi kualifikasi II compound women dan pada sesi aduan individu compound women.
Dinda menerangkan, untuk merebut predikat terbaik di tiga kategori dirinya harus bersaing bersama ratusan peserta se-Nusantara. Dengan total 262 atlet panahan dari seluruh Indonesia ikut berlaga.
Tentu berkat dukungan dan doa semua pihak pemerintah kabupaten dan provinsi sehingga saya masih terus bisa berprestasi. “Mohon doa dari seluruh masyarakat agar bisa terus memberikan yang terbaik dan mengharumkan nama daerah,” ajak Dinda.
Diketahui, Dinda sudah banyak mengaharumkan nama Kutim (club mas archery). Mulai dari tingkat kabupaten, provinsi, nasional hingga internasinal sebagai atlet timnas Sea Games 2019. Terayar, ia juga bakal mewakili Kaltim di PON XX 2021 di Papua.
Awal karir ia terjun dalam olahraga renang dan sempat menjuarai lomba renang antar daerah di Kaltim.
“Namun semakin hari (dewasa), karena saya ingin menjalankan sunah Rasul lainnya (memanah), maka bersama adik laki-laki saya Muhammad Dandy Caezarido Utomo, kami belajar memanah dari dasar sejak 2016,” kata Dinda.
Anak pertama dari tiga bersaudara pasangan Deddy Utomo dan Indah Winarni ini harus melalui suka duka selama menggeluti olahraga panahan. Dari merasakan tangan memar terkena tali busur (string), kulit memerah terbakar sinar matahari hingga pengalaman memecahkan kaca jendela rumah karena terbidik anak panah (arraow) yang salah sasaran.
Dinda yang lahir di Samarinda, 30 September 2002 silam, saat ini masih berstatus pelajar kelas XI di SMA 2 Sangatta. Meski disibukkan dengan kegiatan memanah, Dinda tidak melupakan tugas utamanya yakni sekolah. Manajemen membagi waktu antara sekolah dan berlatih panah mesti dijalani hingga saat ini. Namun ketika Dinda harus bertanding ke luar kota, terpaksa harus izin mengorbankan jadwal sekolahnya.
“Saya melalui orangtua selalu menjaga komunikasi yang baik dengan pihak sekolah. Bagi saya mengejar pelajaran yang tertinggal atau harus ujian seorang diri memang sangat tidak menyenangkan. Tapi membawa medali demi nama harum sekolah, klub dan Kutim adalah impian saya juga,” sebutnya.
Perjalanan menjadi atlet panahan tak selamanya berjalan mulus. Dinda mengaku kadang juga menemui kendala. Tak jarang harus keluar modal terlebih dahulu, untuk membeli peralatan memanah. Apalagi Compound bow yang menjadi spesialisasi Dinda membutuhkan biaya dan perawatan yang tidak murah.
Harga Compound bow beserta perlengkapnnya bila ditotal bisa seharga satu unit mobil. Beruntung orang tua selalu memberikan dukungan terhadap dirinya. Walaupun biaya masih menjadi kendala utama. “Akan tetapi Dinda sadar jika berkeinginan kuat, terus berlatih, berdoa, dan berusaha, semua pasti terlewati,” sebutnya.[]
Penulis : */Zulhamri
Editor : Rusdi