Yunus mengaku cukup prihatin dengan beberapa pola kerja SSB di Indonesia yang cukup liar dalam mengikuti kejuaraan atau turnamen. "Mereka tidak terorganisir sehingga kasihan para muridnya atau para pemainnya," kata Yunus kepada korankaltim.com, Minggu (14/3/2021) hari ini.
Secara keras pihaknya telah melarang dan tidak memberikan izin penyelenggaraan beberapa turnamen yang dibuka pada hari Jumat kemudian ditutup pada hari Minggu. "Tentu kawan-kawan pelatih paham tentang hal itu, karena sangat tidak baik untuk anak-anak dan biasanya selalu diikuti oleh SSB itu sendiri. Ini bukan pembinaan sepak bola yang berkelanjutan atau berjangka panjang tetapi itu membunuh para pemain anak-anak kita ke depan," tegasnya.
Padahal anak-anak usia 16 tahun ke bawah memiliki masa pertumbuhan dan kesenangan untuk menjadi seorang pemain sepak bola namun justru diberikan target untuk menjadi juara dan diporsir bekerja keras. Selain itu, Yunus juga mengungkapkan banyaknya persoalan menyangkut sengketa pemain muda yang terjadi di pulau Jawa, dimana ketika pemain berbakat yang dimiliki SSB tiba-tiba dicomot klub profesional.
"Ketika sudah lima tahun dibina oleh SSB atau akademi dan sudah menjadi pemain bagus tiba-tiba diambil oleh klub-klub profesional Liga 1, Liga 2 atau Liga 3 tanpa ada kompensasi. Kasihan pelatihnya, kasian SSB-nya," ungkap Yunus.
Hal senada juga ditambahkan oleh Ketua Askab PSSI Kukar H Ardinansyah yang mengingatkan pentingnya SSB atau akademi sepak bola terdaftar atau terafiliasi dengan PSSI, sehingga Askab atau Askot PSSI bisa melakukan advokasi jika ada persoalan sengketa pemain di kemudian hari.
“Askab selalu membuka diri dan siap bekerja sama dengan kawan-kawan SSB atau pemilik akademi sepak bola untuk menjadi bagian dari Askab Kutai Kartanegara. Ini bukti kerja kita bersama untuk meningkatkan prestasi sepak bola Kutai Kartanegara khususnya dan Kaltim pada umumnya saat ini dan masa yang akan datang,” tukas Ardinansyah.
Penulis : Muhammad Heriansyah
Editor: Aspian Nur