Usulan pencoretan datang dari Pengurus Besar (PB) PON Papua dengan alasan belum tersedianya venue serta masalah anggaran.
Sebelumnya telah diputuskan 50 cabor yang akan dipertandingkan. Keputusan ini sudah tertuang dalam surat keputusan (SK) KONI Pusat.
Usulan pencoretan lima cabor ini lantas menuai protes. Yang banyak menuai protes dari cabor khususnya panjat tebing yang nota bene dipertandingkan hingga ke level dunia, tetapi justru dicoret dan tidak dipertandingkan di PON.
“Itu hanya rakornis saja, artinya forum di mana keinginan apa yang ingin disampaikan dan dibicarakan, jadi belum keputusan akhir dan kami dari KONI Kaltim masih tetap pada SK sebelumnya yang mempertandingkan 50 cabang olahraga,” ungkap Ketua Bidang Organisasi KONI Kaltim, Budhi Iriawan, kemarin.
Tetapi, untuk solusinya itu diagendakan akan ada pertemuan lagi membicarakan soal cabor yang dipertandingkan dan keputusan akhir itu di Rapat Anggota KONI Pusat 2019. “Untuk Rapat Anggota ini harus dilaksanakan awal tahun, karena cabor-cabor sudah mulai melaksanakan pra-PON, artinya sebelum Pra-PON sudah ada kepastian cabor yang dipertandingkan,” terang Budhi.
Memang, dijelaskan Budhi tuan rumah Papua berhak mencoret cabor yang dipertandingkan, tetapi harus ada alasan yang memang bisa diterima semua pihak.
“Tuan rumah berhak, ya tapi harus jelas dan bisa diterima karena pasti semua itu ada solusinya dan ini soal pembinaan cabor juga untuk kedepannya. Apalagi, untuk panjat tebing, bowling dan arung jeram Kaltim memiliki kans medali,” pungkasnya. (rgn)