Prestasi ini luar biasa, lantaran Squash Kaltim sudah terlampau lama tertidur di kancah nasional. Squash Kaltim sebenarnya pernah mencapai zaman keemasan saat era Fenny Mokalu dan Kaltim menjadi kiblat squash di Indonesia.
“Baru kali pertama kita raih kembali juara umum. Ini berkat keberanian dari pelatih mengambil bibit baru dan diseleksi lalu kemudian ikut kejuaraan junior. Ini lompatan yang bagus, selepas masa keemasan kami,” tuturnya, di Sekretariat KONI Kaltim, Jl Kesuma Bangsa, kemarin.
Berdasarkan prestasi itu, Pengprov bertekad di tahun 2018 ini akan fokus meningkatkan pembinaan atlet junior. Elvyani menegaskan pembinaan atlet junior sangat penting untuk regenerasi dan diharapkan prestasi yang di torehkan atlet muda tersebut bisa berlanjut ke tingkat senior di masa mendatang.
“Kita konsentrasi regenerasi, pembinaan dan pelatihan. Junior ini aset untuk kmai yang harus kami persiapkan dengan matang untuk bisa menggantikan seniornya di masa depan. Jangan sampai prestasi bagus tapi tidak ada regenerasi dan harus terhenti,” ucapnya.
Meski fokus pembinaan atlet junior, pihaknya tetap memberikan pembinaan kepada atlet senior. Menurut Elvyani pembinaan senior tetap berjalan rutin setiap harinya dengan perlu menambahkan jam terbang melalui uji tanding.
“Karena memang untuk tantangan ke depan akan lebih berat dibandingkan di Jawa Barat yang hanya berhasil membawa perunggu di nomor beregu, sehingga untuk menghadapi PON 2020 di Papua persiapan harus dilakukan dari sekarang supaya kami bisa banyak bicara,” pungkasnya. (rgn)