Pulau Sumatera di Indonesia menjadi yang paling parah terdampak. Bencana ini, yang dipicu oleh musim hujan dan pembentukan siklon tropis yang tidak biasa di Selat Malaka menyebabkan ribuan orang hilang, kerusakan parah pada infrastruktur dan membuat ratusan ribu orang mengungsi.
Menurut data terbaru yang dirilis oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) , jumlah korban tewas di Indonesia sampai kemarin mencapai 502 orang sementara jumlah orang hilang meningkat menjadi 508. Lebih dari 2.500 orang terluka dan sekitar 550.000 orang telah dievakuasi dari rumah mereka.
Hujan deras menyebabkan sungai meluap dan memicu tanah longsor terutama berdampak pada provinsi Sumatera Utara , Aceh dan Sumatera Barat . "Jumlah orang yang terdampak melebihi 1,4 juta jiwa di wilayah yang dihuni lebih dari 20 juta jiwa ," jelas BNPB melansir dari afp Selasa (2/12/2025) hari ini.
Besarnya bencana telah melampaui kapasitas respons beberapa pemerintah daerah yang bersama organisasi masyarakat sipil, meminta pemerintah pusat untuk menetapkan status bencana nasional , sebuah langkah yang hanya diperuntukkan bagi situasi luar biasa dalam tiga dekade terakhir.
Dalam kunjungannya ke Sumatera Utara kemarin, Presiden Prabowo Subianto berharap yang terburuk telah berlalu dan mengindikasikan prioritasnya adalah penyaluran bantuan segera ke daerah-daerah yang paling terdampak, dengan perhatian khusus pada kecamatan-kecamatan yang terputus oleh bencana.
Pemerintah Indonesia mengirimkan tiga kapal perang yang membawa bantuan kemanusiaan dan dua rumah sakit terapung ke daerah-daerah yang paling terdampak.
“Banyak warga yang mengungsi di Sumatera Utara, Sumatera Barat dan Aceh masih bergantung pada pasokan yang diangkut melalui udara, sementara para petugas berupaya memulihkan komunikasi dan membersihkan jalan-jalan yang terblokir oleh puing-puing tanah longsor,” ungkap Abdul Muhari , juru bicara BNPB.
Kisah warga menggambarkan kehancuran total rumah dan bisnis sehingga orang-orang terpaksa mengungsi didekat tembok yang masih berdiri. Misbahul Munir, seorang warga Aceh Utara berusia 28 tahun menceritakan bagaimana ia harus mengarungi air setinggi leher untuk menyelamatkan barang-barangnya. "Semua yang ada di rumah hancur karena terendam. Saya hanya punya pakaian yang saya pakai," kata Munir.
Sementara itu, banjir yang disebabkan oleh musim hujan dan siklon tropis telah meluluhlantakkan Thailand selatan dan sebagian besar wilayah Sri Lanka , menewaskan ratusan orang dan melukai jutaan orang lainnya.
Pihak berwenang Thailand melaporkan 176 kematian sampai kemarin dan kerugian jutaan dolar dibeberapa provinsi di selatan. Lebih dari 1,5 juta rumah dan 3,9 juta orang terdampak oleh naiknya air, sementara juru bicara pemerintah Siripong Angkasakulkiat mengumumkan kompensasi finansial telah mulai disalurkan kepada mereka yang terdampak dan dapur umum telah didirikan di wilayah-wilayah yang paling parah terkena dampak.
Di Sri Lanka , jumlah korban tewas resmi diperbarui kemarin mencapai 334 orang dengan 337 orang hilang, menurut otoritas setempat. Hampir 148.000 orang ditampung di tempat penampungan sementara.
Presiden Anura Kumara Dissanayake mengumumkan keadaan darurat dan menggambarkan situasi tersebut sebagai bencana alam terbesar dan paling menantang dalam sejarah.. Tim penyelamat dan helikopter militer terus mencari korban selamat terutama di wilayah penghasil teh di pusat dan ibu kota, Kolombo , tempat banjir mulai surut setelah hujan berhenti, yang memungkinkan toko-toko dan kantor-kantor untuk dibuka kembali.
Hujan yang turun selama seminggu terakhir telah mengakibatkan beberapa wilayah di kawasan tersebut terputus komunikasi dan mengalami kerusakan jalan yang parah, terutama di daerah pegunungan dan pedesaan .
Baik Indonesia maupun Sri Lanka telah memobilisasi personel militer untuk membantu upaya penyelamatan , pembersihan puing-puing dan pemulihan layanan dasar.
Di Thailand, meskipun permukaan air telah surut, respons pemerintah telah menuai kritik publik, dan dua pejabat daerah telah diskors karena dugaan kekurangan dalam menangani keadaan darurat.
Dampak dari rangkaian bencana alam ini , yang diperparah oleh intensifikasi musim hujan dan perkembangan fenomena cuaca ekstrem yang terkait dengan perubahan iklim telah menjadi yang terbesar yang pernah tercatat di Asia sejak tsunami tahun 2004 dan gempa bumi Indonesia tahun 2018 , menurut penilaian regional oleh badan-badan manajemen darurat .
Editor: Aspian Nur