“Kondisi jasad benar-benar hancur. Tingkat kerusakan cukup berat akibat kebakaran,” kata Kabid Dokkes Polda Kalsel, Kombes Pol dr Muhammad El Yandiko dikutip dari Antaranews, Minggu (7/9/2025).
Berbeda dari lima korban lain terdiri dari dua WNI dan tiga Warga Negara Asing (WNA), tiga jasad tersebut mengalami kerusakan fisik parah yang membuat proses identifikasi lebih kompleks.
“Sangat sulit diidentifikasi tanpa melalui DNA. Di samping itu, data catatan medis WNI ini juga belum kami dapatkan dengan lengkap,” jelasnya.
Yandiko mengaku, dua jasad WNI lainnya dalam kondisi lebih baik dan mulai mengarah ke identitas asli.
Meski demikian, proses identifikasi tetap memerlukan pendalaman, termasuk menggunakan metode superimposisi kraniofasial, yakni membandingkan struktur tengkorak dengan data antemortem seperti foto atau data medis.
“Kami minta doanya agar semua dapat teridentifikasi, semoga segera selesai,” terangnya.
Diketahui, korban kecelakaan helikopter sebanyak delapan, di antaranya terdiri dari seorang pilot bernama Kapten Haryanto berasal dari Kota Batam, Kepulauan Riau, teknisi bernama Hendra Darmawan (Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan).
Kemudian enam penumpang, yakni Mark Werren (Australia), Santha Kumar Prabhakaran (India), Claudine Pereira Quito (Brasil), Iboy Irfan Rosa (Kabupaten Kuantan Singingi, Riau), Yudi Febrian Rahman (Pekan Baru, Riau), Andys Rissa Pasulu (Kota Balikpapan, Kalimantan Timur). (*)
Editor: Erwin