Prosesi dimulai dengan ibadah bersama yang berlangsung selama kurang lebih dua jam, diikuti upacara pemakaman dengan tata cara militer.
Suara tangis keluarga pecah begitu jenazah selesai disemayamkan. Rasa duka yang mendalam terpancar dari wajah ayah, ibu, serta kerabat dekat almarhum yang masih sulit menerima kenyataan kepergiannya.
“Mama belum terima nak, mama tidak terima kamu pergi seperti ini,” teriak ibu almarhum Prada Lucky Namo, Sepriana Paulina Mirpey dilansir dari Antaranews, Minggu (10/8/2025).
Penyerahan jenazah secara kedinasan dilakukan dengan dipimpin inspektur upacara Kas Brigif Letkol Bayu Sigit Dwi Untorodi di depan rumah duka.
Proses pemakaman yang dilakukan dengan tembakan salvo oleh sejumlah prajurit TNI dari Kodim Kupang dan Brigif Komodo.
Sementara itu, ayah Prada Lucky, Sersan Mayor Christian Namo mengatakan proses hukum terhadap para pelaku penganiayaan tetap harus berjalan.
“Kami ingin ini diungkap seadil adilnya, kami ingin para pelaku dihukum sesuai dengan aturan yang berlaku,” ujarnya.
Kedatangan jenazah Prada Lucky di Kupang pada Kamis (7/8/2025) disambut dengan suasana penuh emosi. Sang ayah, tampak terpukul dan tidak bisa menyembunyikan amarahnya.
Kemarahan Christian memuncak setelah dua rumah sakit di Kupang disebut-sebut menolak melakukan autopsi terhadap jenazah putranya.
Penolakan tersebut menambah luka di tengah kesedihan keluarga yang masih mencari keadilan atas dugaan penganiayaan yang menyebabkan kematian anak mereka.
Editor: Erwin