Pemerintah AS mempertahankan tarif minimum 10 persen yang telah berlaku sejak April2025 lalu untuk negara-negara yang mengalami surplus perdagangan.
Namun mulai pukul 04:01 GMT atau pukul 12.01 siang tadi, AS menerapkan tarif baru yang dibedakan kepada mitra-mitranya yang mengalami defisit. Tarif ini berkisar antara 15 persen hingga 41 persen dan telah menjadi instrumen utama strategi ekonomi sang presiden.
"Sudah tengah malam. Miliaran dolar tarif mengalir ke Amerika Serikat ," tulis Trump lagi. "Satu-satunya hal yang dapat menghentikan Amerika menjadi hebat adalah pengadilan sayap kiri radikal yang ingin melihat negara kita gagal," tegasnya.
Diantara negara-negara yang menghadapi skema tarif baru ini adalah Uni Eropa, Jepang, Korea Selatan, Kosta Rika, Bolivia, Ekuador dan Venezuela , yang semuanya dikenakan tarif tambahan sebesar 15 persen.
Nikaragua akan dikenakan tarif sebesar 18 persen. Di negara-negara dengan tarif tertinggi, Suriah dikenakan pajak sebesar 41 persen dan Swiss sebesar 39 persen , meskipun upaya negosiasi mereka di menit-menit terakhir gagal.
India adalah negara yang paling terdampak, yang akan dikenakan tarif total 50 persen dengan rincian 25 persen berlaku hari ini dan tambahan 25 persen berlaku dalam tiga pekan ke depan. Menurut Gedung Putih, denda besar itu disebabkan oleh pembelian minyak Rusia yang berkelanjutan oleh pemerintah India di tengah sanksi Barat terhadap Moskow.
Sedangkan untuk Brasil , negara tersebut dikenakan tarif tambahan sebesar 50 persen untuk produk-produk seperti kopi dan daging, meskipun memiliki surplus dengan Amerika Serikat.
Menurut pejabat pemerintahan Trump, keputusan ini juga memiliki unsur politik, sebagai tanda protes terhadap persidangan mantan Presiden Jair Bolsonaro yang sedang berlangsung, yang secara terbuka dibela Trump sebagai korban "perburuan penyihir".
Meksiko memperoleh perpanjangan 90 hari untuk menegosiasikan persyaratan. Sementara itu, produk-produknya dikenakan tarif sebesar 25 persen, kecuali barang-barang yang tercakup dalam Perjanjian Amerika Serikat-Meksiko-Kanada (USMCA) . Perjanjian ini juga sebagian melindungi Kanada meskipun banyak produknya sudah dikenakan tarif tambahan sebesar 35 persen sejak awal.
Alasan tindakan tersebut adalah proteksionisme ekonomi , sebuah kebijakan yang semakin diintensifkan Trump sejak kembali menjabat sebagai presiden. "Amerika akan menjadi hebat dan kaya lagi," tulis Trump beberapa waktu lalu di media sosialnya.
Presiden dari Partai Republik tersebut menegaskan bahwa tarif baru akan memaksa perusahaan asing untuk merelokasi produksi mereka ke Amerika Serikat. Sebuah survei yang diterbitkan pada 31 Juli oleh Morning Consult dan The Century Foundation mengungkapkan kalau 83 persen warga Amerika khawatir tentang kenaikan harga pangan, sebuah dampak yang oleh sebagian besar ekonom dikaitkan langsung dengan kebijakan tarif.
Menghadapi situasi ini, Trump menyebutkan pada bulan Juli kemungkinan penerapan "pengembalian dana" bagi warga yang terdampak, meskipun ia tidak merinci mekanisme maupun pendanaan langkah tersebut. " Yang terpenting adalah melunasi utang," ucapnya saat itu, merujuk pada utang publik AS yang melampaui $36,8 triliun pada awal Agustus.
Kerangka tarif baru juga memengaruhi sektor-sektor strategis. Kemarin Trump mengumumkan tarif 100 persen untuk chip dan semikonduktor impor, meskipun ia mengecualikan perusahaan yang memproduksinya di dalam negeri.
Ia juga mengumumkan produk farmasi akan segera dimasukkan. "Awalnya kami akan mengenakan tarif kecil untuk produk farmasi, tetapi dalam satu tahun, satu setengah tahun, paling lama, akan naik menjadi 150 persen dan kemudian 250 persen karena kami ingin produk farmasi diproduksi di negara kami," kata Trump dalam sebuah wawancara dengan CNBC .
Tanggal penting berikutnya dalam agenda perdagangan Gedung Putih adalah 12 Agustus , ketika gencatan senjata tarif sementara dengan Tiongkok berakhir. Sejauh ini kedua negara telah mempertahankan tarif yang dikurangi sebesar 10 persen untuk barang-barang AS dan 30 persen untuk barang-barang Tiongkok. Kemungkinan perpanjangan perjanjian ini sedang dinegosiasikan, tetapi keputusan akhir berada di tangan Trump.
Editor: Aspian Nur