Dalam keterangan resmi yang baru saja digelar di Jakarta, Kepala Divisi Hubungan Masyarakat (Kadiv Humas) Polri Irjen Pol Argo Yuwono menjelaskan bom bunuh diri berawal dari dua orang yang mengendarai motor hendak masuk ke area katedral namun dilarang petugas karena sedang ada misa di gereja tersebut.
Tak lama usai misa selesai, bom tiba-tiba meledak di gerbang gereja dan ada potongan tubuh ditemukan di lokasi usai ledakan berlangsung. “Ada 14 orang yang terluka, ada potongan tubuh diduga pelaku yang melakukan pemboman, tapi belum diketahui potongan tubuh itu dari satu orang apa dua orang, masih dalam penyelidikan,” kata Argo.
Disebutkannya, insiden bom bunuh diri itu membuat sekitar gereja rusak berat dan 14 orang terluka yang merupakan jemaat gereja dan sekuriti. Mereka mengalami luka dileher dada muka tangan dan kaki serta bagian perut dan saat ini sudah dirawat di rumah sakit terdekat. Polisi akan melakukan pengecekan lewat rekaman CCTV di sekitar lokasi kejadian dan mengautopsi potongan tubuh yang ditemukan di lokasi kejadian.
Polisi langsung berjaga di dekat lokasi ledakan bom bunuh diri di depan Gereja Katedral Makassar yang berada persis di pertigaan Jalan RA Kartini Makassar. Saksi mata yang berada di sekitar gereja menyebutkan kalau pelaku memang ada dua orang mengendarai sepeda motor. Awalnya mereka menduga ledakan dari trafo listrik namun ketika mereka datang ke lokasi terlihat potongan tubuh.
Lokasi gereja Katedral, terletak dekat lapangan Karebosi. Saat peristiwa ledakan terjadi, di lapangan tersebut juga sedang dilaksanakan vaksinasi Covid-19 namun tak terimbas peristiwa ini karena jaraknya 300 meter dari gereja. Polisi juga belum memastikan bom bunuh diri ini masuk dalam jaringan teroris atau tidak.
“Semua masih dalam penyelidikan, akan segera disampaikan informasi selanjutnya,” tutup Argo. Peristiwa di gereja ini mengingatkan hal serupa yang terjadi pada 13 November 2016 silam di Gereja Oikumene, Jalan Cipto Mangunkusumo Kelurahan Sengkotek, Kecamatan Loa Janan Ilir, Samarinda, Kalimantan Timur.
Saat itu bom meledak ketika terjadi pergantian jemaat di gereja Oikumene, yakni jemaat HKBP bergantian dengan Jemaat Kristen Indonesia (JKI) Mawar Sharon. Saat sejumlah anak pun mulai keluar dari pintu utama untuk bersiap pulang tiba-tiba seorang pria tidak dikenal yang mengenakan kaus dan celana hitam melemparkan bom Molotov dan meledak tiga kali.
Empat korban yang kesemuanya anak-anak tergeletak tak berdaya dengan kondisi luka bakar dan langsung dibawa i ke RSUD IA Moeis. Pelaku pelemparan bom langsung melarikan diri ke arah Sungai Mahakam dan menceburkan diri namun berhasil ditangkap. bom Molotov sendiri membakar kendaraan yang terparkir dan beruntung saat itu tak membakar gereja karena api yang membesar berhasil dipadamkan warga setempat.
Penulis/Editor: Aspian Nur