Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana (PVMBG) Badan Geologi, Kasbani mengimbau masyarakat tidak beraktivitas di seluruh area di dalam radius empat kilometer dari puncak Gunung Soputan.
Imbauan itu termasuk di dalam area perluasan sektoral ke arah Barat-Baratdaya sejauh 6,5 kilometer dari puncak yang merupakan daerah bukaan kawah, buat menghindari potensi ancaman guguran lava maupun awan panas. "Kami jelaskan tidak ada pengungsian karena memang daerah yang berada di dalam 4 kilometer dan sektoral 6,5 kilometer itu tidak ada penghuninya," tutur Kasbani.
Kasbani meminta masyarakat tetap tenang dan menginstruksikan tidak ada aktivitas dalam radius yang ditetaokan. "Tidak boleh ada aktivitas pendakian karena potensi letusan bisa terjadi setiap saat," katanya.
Masyarakat di sekitar Gunung Soputan juga dianjurkan agar menyiapkan masker penutup hidung dan mulut, guna mengantisipasi potensi bahaya gangguan saluran pernapasan jika terjadi hujan abu. "Masyarakat yang terdampak abu harus menyiapkan masker tapi tidak perlu mengungsi. Abu ini bisa terbang ke mana saja, bisa melebihi radius tergantung arah angin," paparnya.
Sementara itu Anak Gunung Krakatau di Selat Sunda, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung juga bergejolak. Gunung itu sudah meletus 156 kali sepanjang Selasa (2/10) hingga Rabu (3/10) dinihari tadi.
Dari pengamatan kamera pemantau, sinar letusan terlihat jelas dari Gunung Anak Krakatau. Terdengar juga suara dentuman dan getaran dan kaca dirasakan lemah-kuat di pos pengamatan. Sedangkan ombak laut tenang. (*)