Kunjungan tersebut dilakukan untuk memastikan pelaksanaan MPLS berjalan sesuai konsep ramah anak, menyenangkan serta mendukung proses transisi dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) ke jenjang Sekolah Dasar (SD) tanpa memberikan tekanan akademik kepada peserta didik baru.
Ia berpesan agar tenaga pendidik menjadikan sekolah sebagai tempat yang aman dan nyaman bagi anak-anak dalam memulai pengalaman belajar mereka.
“Saya berharap sekolah ini benar-benar menjadi rumah kedua bagi anak-anak,” ujarnya. Lanjutnya, ia menginginkan anak-anak disambut dengan kasih sayang. Menciptakan suasana yang hangat sehingga mereka merasa senang datang ke sekolah, bukan justru merasa takut atau tertekan. Kurikulum MPLS juga dinilai sebaiknya dikemas secara kreatif, edukatif, dan rekreatif. Pengenalan lingkungan sekolah, guru, teman, hingga fasilitas seperti ruang kelas dapat dilakukan melalui kegiatan bernyanyi, bermain dan aktivitas interaktif lainnya agar proses adaptasi berlangsung lebih menyenangkan. Pendekatan tersebut sejalan dengan program Transisi PAUD ke SD yang menyenangkan, di mana anak tidak lagi dibebani tuntutan harus mampu membaca, menulis dan berhitung.
“Jangan ada pemaksaan akademis yang kaku. Anak-anak tidak boleh merasa terbebani dengan target calistung,” harapnya.
Terpenting, menurutnya, para anak sekolah mampu beradaptasi, mengenal lingkungan sekolah dan tumbuh rasa percaya diri untuk belajar. Pentingnya menciptakan lingkungan pendidikan yang inklusif dan menghormati hak-hak anak.
Ia menegaskan sekolah harus menjadi tempat yang bebas dari segala bentuk kekerasan maupun perundungan.
Menurutnya, keberhasilan pendidikan tidak hanya bergantung pada sekolah. Peran keluarga memiliki porsi yang sangat besar karena sebagian besar waktu anak justru dihabiskan bersama orang tua di rumah.
“Pendidikan merupakan tanggung jawab kita bersama. Sekolah hanya mendampingi anak beberapa jam setiap hari, selebihnya mereka berada di lingkungan keluarga,” ujarnya.
Karena itu, komunikasi dan kerja sama antara guru dengan orang tua harus terus diperkuat.
Ia mengimbau orang tua dan guru agar tidak hanya memperhatikan prestasi akademik, tetapi juga perkembangan karakter, mental dan spiritual anak.
“Mari kita awasi tumbuh kembang anak secara menyeluruh. Tanamkan nilai-nilai agama, etika dan sopan santun sejak dini,” pungkasnya.
Editor: Erwin