Satu diantara langkah yang dilakukan adalah mengoperasikan 24 intake yang tersebar di sejumlah wilayah.
Keberadaan puluhan intake tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga kontinuitas distribusi air bersih, terutama saat menghadapi perubahan kondisi alam seperti fluktuasi debit sungai maupun potensi banjir yang dapat memengaruhi operasional instalasi.
Direktur Teknik (Dirtek) Perumdam TTB Kutim Galuh Boyo Munanto menjelaskan, seluruh intake yang beroperasi saat ini terdiri dari berbagai model yang disesuaikan dengan karakteristik sumber air di masing-masing lokasi.
“Total ada 24 unit intake yang kami operasikan, terdiri dari 12 unit ponton atau terapung, lima unit jembatan, enam unit sumuran dan satu unit bronkaptering," ujar Galuh.
Pemilihan tipe intake ini menyesuaikan kondisi teknis di lapangan agar tetap efektif dan aman dalam beroperasi. Penggunaan intake model ponton memiliki keunggulan karena mampu mengikuti perubahan tinggi muka air sungai. Sistem terapung tersebut dinilai lebih adaptif terhadap kondisi sungai yang naik dan turun sepanjang tahun.
Satu contoh penerapan teknologi tersebut berada di Intake Kudungga. Dengan sistem floating, posisi alat pengambil air dapat menyesuaikan pergerakan permukaan air sehingga proses pengambilan air baku tetap berjalan optimal.
“Untuk intake yang menggunakan sistem ponton, perubahan elevasi air tidak terlalu menjadi masalah karena konstruksinya ikut bergerak mengikuti level air. Ini yang membuat operasionalnya lebih fleksibel,” jelasnya.
Sementara untuk intake tipe sumuran yang bersifat permanen atau fixed, pihaknya telah melakukan perencanaan berdasarkan data historis ketinggian air. Langkah tersebut dilakukan agar fasilitas tetap aman meski terjadi peningkatan debit sungai pada musim penghujan.
Berkaca pengalaman menghadapi banjir besar pada tahun 2022 menjadi bahan evaluasi penting bagi perusahaan dalam memperkuat sistem mitigasi risiko. Saat itu, dua unit intake terpaksa dihentikan sementara demi menjaga keselamatan instalasi dan peralatan.
“Saat banjir ekstrem tahun 2022 lalu ada dua intake yang harus kami shutdown selama sekitar 42 sampai 72 jam," pungkas Galuh.
Editor: Aspian Nur