Dalam pelaksanaannya, Perumda TTBKT bekerja sama dengan Yayasan Pendidikan Tirta Dharma Persatuan Perusahaan Air Minum Seluruh Indonesia (PAMSI) serta Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) PTD PAMSI. Kerja sama tersebut dilakukan untuk memastikan seluruh materi pelatihan dan proses uji kompetensi berjalan sesuai standar nasional.
Sebanyak 30 pegawai terpilih dari berbagai unit kerja, kantor cabang, hingga kantor pusat dinyatakan lulus dan resmi mengantongi sertifikat kompetensi manajemen air minum.
Direktur Teknik Perumda TTBKT, Galuh Boyo Munanto, mengatakan program tersebut menjadi langkah penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia sekaligus menyelaraskan mutu pelayanan air bersih di seluruh wilayah kerja perusahaan.
“Profesionalisme menjadi fondasi utama dalam pelayanan. Dengan kemampuan dan kompetensi yang baik, setiap tantangan di lapangan akan mampu dihadapi secara maksimal,” ujarnya.
Ia menegaskan, para peserta diklat yang telah tersertifikasi bukan hanya dipersiapkan untuk kebutuhan internal perusahaan, tetapi juga sebagai calon pemimpin masa depan di sektor pengelolaan air minum.
“Kami ingin mencetak sumber daya manusia yang siap bersaing secara luas. Mereka tidak hanya dipersiapkan untuk lingkup kecil,” jelasnya.
Tetapi juga untuk daerah lain, bahkan hingga mendukung kebutuhan sumber daya manusia di Ibu Kota Nusantara (IKN). Menurutnya, sektor pengelolaan air minum memiliki prospek besar di masa mendatang karena berkaitan langsung dengan kebutuhan dasar masyarakat dan sektor kesehatan.
“Industri air dan kesehatan sektor strategis yang tidak akan pernah mati. Karena itu, penguasaan teknologi dan manajemen modern menjadi hal yang wajib dimiliki,” katanya.
Ia menekankan pentingnya inovasi dalam sistem pengolahan dan distribusi air bersih agar pelayanan kepada masyarakat semakin optimal. Efisiensi operasional menjadi salah satu kunci untuk mencapai tujuan tersebut.
Melalui program diklat tersebut, manajemen berharap para pegawai mampu meningkatkan respons teknis terhadap gangguan operasional, menekan angka kehilangan air atau non-revenue water (NRW), serta menjadi motor penggerak transformasi pelayanan publik yang lebih profesional dan adaptif di era digital.
Program peningkatan kapasitas SDM ini juga menjadi bagian dari investasi jangka panjang perusahaan dalam menjamin pelayanan air bersih yang andal dan berkelanjutan bagi masyarakat.
“Kita harus mampu menghadirkan layanan air bersih yang berkualitas, berkelanjutan, dan tetap terjangkau bagi masyarakat,” pungkasnya.
Editor: Erwin