Langkah ini diambil sebagai bentuk antisipasi terhadap potensi kemarau panjang yang dapat berdampak pada penyusutan sumber air baku di sejumlah wilayah.
Direktur Utama (Dirut) Perumdam TTBKT Suparjan mengatakan, pihaknya telah mengoptimalkan berbagai langkah teknis guna menjaga ketersediaan air bersih bagi masyarakat.
Salah satu upaya yang dilakukan yakni memaksimalkan kinerja pompa di titik intake, termasuk melakukan perbaikan pada sistem pendukung.
“Seluruh pompa kami dorong bekerja optimal. Termasuk pembenahan stang valve agar aliran air ke intake bisa maksimal,” ujarnya.
Saat ini tiga unit pompa di intake baru telah beroperasi penuh. Masing-masing pompa memiliki daya 56 kW dan difungsikan untuk meningkatkan kapasitas pengambilan air baku secara signifikan.
Di sisi lain, kondisi intake lama juga menunjukkan tren positif. Berdasarkan pemantauan terbaru, terjadi kenaikan elevasi air yang memungkinkan pompa kembali dioperasikan untuk menambah suplai.
“Dengan tambahan ini, debit air yang sebelumnya sekitar 185 liter per detik kini meningkat menjadi 339 liter per detik,” jelasnya.
Menurut Suparjan, peningkatan debit tersebut sangat bergantung pada pola pasang surut air. Jika kondisi ini dapat bertahan dalam beberapa jam, maka peluang penambahan pasokan air akan semakin besar.
“Kami terus membaca pola pasang surut. Dari situ kami bisa menentukan kapan harus meningkatkan sedotan air dan kapan perlu mengurangi beban operasi,” tambahnya.
Sementara itu, Direktur Teknik (Dirtek) Perumdam TTBKT Galuh Boyo Munanto menyampaikan, pihaknya saat ini tengah mengonsolidasikan seluruh kekuatan teknis untuk menjaga stabilitas distribusi air ke pelanggan.
“Tim kami terus memantau kondisi di lapangan. Penurunan debit air mulai terasa di beberapa wilayah layanan. Kami bergerak cepat untuk mengantisipasi dampaknya,” ungkap Galuh.
Ia menyebutkan, wilayah Kaliorang dan Sangkulirang menjadi daerah yang pertama terdampak penurunan debit air akibat berkurangnya curah hujan. Kondisi ini diperkirakan akan meluas ke wilayah lain seperti Bengalon dalam waktu dekat.
Menghadapi fenomena yang disebut sebagai El Nino (Godzilla) pihaknya telah menyiapkan tiga langkah utama mitigasi yakni optimalisasi produksi air, peningkatan respons terhadap kebocoran jaringan serta penguatan koordinasi antar unit operasional.
Selain itu, masyarakat juga diimbau untuk berperan aktif dalam menjaga ketersediaan air bersih dengan menggunakan air secara bijak, menyiapkan cadangan air, serta segera melaporkan jika menemukan kebocoran pipa di lingkungan sekitar.
“Kami terus berupaya menjaga layanan tetap berjalan. Namun kami juga berharap dukungan masyarakat agar distribusi air bisa tetap optimal di tengah kondisi ekstrem,” pungkasnya.
Editor: Erwin