Puncak acara diawali dengan prosesi Embob Jengea, bagian inti dari rangkaian ritual adat Lom Plai yang telah diwariskan secara turun-temurun. Suasana khidmat terasa saat masyarakat adat menjalankan prosesi dengan penuh penghormatan terhadap leluhur dan alam. Lom Plai bukan sekadar tontonan tahunan, melainkan jati diri yang harus dijaga keasliannya.
Wakil Bupati Kutim Mahyunadi menilai Lom Plai memiliki makna lebih dari sekadar seremoni budaya. Lom Plai identitas agar tradisi tetap lestari, sekaligus membuka peluang ekonomi melalui pariwisata berbasis budaya. "Lom Plai ini bukan untuk dipoles atau diubah-ubah. Ini identitas yang harus tetap dijaga sesuai dengan nilai aslinya,” kata Mahyunadi.
Festival adat tersebut merupakan tradisi panjang yang menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Dayak Wehea di Muara Wahau. Tradisi turun-temurun yang sudah berlangsung puluhan tahun. "Lom Plai menjadi ungkapan rasa syukur atas hasil panen, sekaligus upaya menjaga budaya agar tidak hilang,” sebutnya.
Festival Lom Plai 2026 berlangsung sejak 23 Maret hingga 24 April hari ini dengan beragam kegiatan seperti ritual adat, lomba sumpit, gasing, dayung, mensut, tari tradisional, tumbuk padi hingga ekspo ekonomi kreatif.
"Pentingnya menjaga keseimbangan antara pelestarian tradisi dan inovasi. Ritual adatnya harus tetap dijaga keasliannya," tegas Mahyunadi.
Lom Plai sendiri masuk Kharisma Event Nusantara (KEN) untuk ketiga kalinya. Hal itu menjadi bukti memiliki daya tarik nasional dan layak terus didorong agar tetap masuk dalam kalender event ke depan.
Editor: Aspian Nur