Pasalnya, kelangkaan ini memicu lonjakan harga BBM di tingkat pengecer. Harga Pertamax dilaporkan mencapai Rp20 Ribu per liter sementara Pertalite menembus Rp19 Ribu per liter.
Gangguan distribusi BBM dipicu oleh insiden kebakaran sebuah SPBU di wilayah Wahau yang membuat penyaluran bahan bakar sempat terganggu dan berdampak pada ketersediaan di tingkat pengecer.
Terkait hal itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kutai Timur (Disperindag Kutim) Nora Ramadani mengatakan, mereka turut memantau kondisi tersebut dan bergerak cepat menangani persoalan melalui koordinasi dengan pihak terkait.
"Kami sudah melakukan koordinasi intensif agar distribusi BBM bisa kembali lancar," ujar Nora kepada Korankaltim.com Minggu (19/4/2026) hari ini.
Terkait kewenangan diungkapkannya pengelolaan migas berada di pemerintah pusat melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Kelangkaan BBM tidak hanya disebabkan oleh insiden kebakaran SPBU yang mana lonjakan kebutuhan masyarakat menjadi faktor utama yang memperparah kondisi di lapangan.
"Permintaan BBM meningkat signifikan sementara kuota distribusi tidak bertambah. Kondisi ini membuat pasokan tidak mampu mengimbangi kebutuhan masyarakat,” sebut Nora lagi.
Sebagai langkah antisipasi dan solusi, Disperindag Kutim telah mengajukan tambahan kuota BBM dan mengusulkan penambahan kuota dan sebagian suplai tambahan telah direalisasikan. "Semoga kebutuhan masyarakat bisa segera terpenuhi,” harapnya.
Selain itu Disperindag juga memperketat pengawasan distribusi di lapangan. SPBU diminta lebih selektif dalam melayani pembelian guna mencegah praktik penimbunan atau pengetap yang dapat menimbulkan kelangkaan.
"Pihak SPBU kami minta agar tidak melayani pembelian melebihi kouta agar distribusi tetap merata dan tepat sasaran,” ucap Nora. "Semoga dengan adanya tambahan suplai dan pengawasan ketat, masyarakat tidak lagi kesulitan mendapat pasokan BBM," tutup Nora.
Editor: Aspian Nur