Di tengah kebijakan Work From Home (WFH) yang diterapkan pemerintah pusat, muncul dorongan untuk menghadirkan solusi yang lebih berkelanjutan dan berdampak jangka panjang. Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) pun mulai mengkaji pendekatan lain yang dinilai lebih efektif.
Wakil Bupati Kutim, Mahyunadi, menilai pengurangan aktivitas kerja dari rumah belum sepenuhnya mampu mengatasi ketergantungan terhadap energi fosil. Menurutnya, penurunan mobilitas memang berdampak, namun belum cukup signifikan untuk menekan konsumsi BBM.
Karena itu, Pemkab Kutim mulai mendorong alternatif penggunaan kendaraan listrik di kalangan aparatur sipil negara (ASN) sebagai langkah strategis menuju efisiensi energi sekaligus pengurangan emisi.
“Yang perlu kita dorong adalah perubahan kebiasaan dalam penggunaan energi. Kendaraan listrik menjadi pilihan yang relevan untuk itu,” ujarnya.
Mahyunadi menyebut, dirinya telah lebih dulu menggunakan kendaraan dinas listrik dalam aktivitas sehari-hari. Dari pengalaman tersebut, ia merasakan langsung efisiensi biaya operasional dibanding kendaraan konvensional.
Menurutnya, perjalanan keluar daerah yang biasanya memerlukan biaya cukup besar untuk BBM, kini dapat ditekan secara signifikan dengan kendaraan listrik.
“Selisih biayanya cukup terasa. Ini menunjukkan bahwa kendaraan listrik bukan hanya ramah lingkungan, tapi juga ekonomis,” ungkapnya.
Meski demikian, ia menegaskan rencana tersebut masih membutuhkan pembahasan lebih lanjut, terutama terkait kesiapan infrastruktur seperti stasiun pengisian daya serta skema penerapan di lingkungan ASN.
“Kita perlu siapkan semuanya secara matang, mulai dari fasilitas hingga aturan penggunaannya,” jelasnya.
Menurutnya, langkah tersebut merupakan bagian dari strategi jangka panjang pemerintah daerah dalam menghadapi tantangan energi ke depan. Kebijakan WFH tetap berjalan, tetapi harus dibarengi solusi berkelanjutan.
“Kendaraan listrik bisa menjadi salah satu langkah konkret yang kita siapkan dari sekarang,” pungkasnya.
Editor: Erwin