Program ini merupakan langkah strategis untuk meningkatkan kemudahan, kecepatan, dan efisiensi dalam pembayaran tagihan air, sekaligus mengurangi ketergantungan pada transaksi tunai.
Direktur Utama (Dirut) Perumdam TTBKT, Suparjan mengatakan, melalui gerakan tersebut, seluruh pegawai diimbau untuk melakukan pembayaran tagihan PDAM secara non-tunai melalui berbagai kanal digital yang telah tersedia.
Pembayaran dapat dilakukan melalui berbagai payment point online bank (PPOB) maupun mitra resmi, seperti perbankan nasional, layanan dompet digital, hingga gerai ritel modern. Di antaranya Bank BRI, BNI, Mandiri, BCA, Bankaltimtara, serta platform digital seperti Tokopedia, Shopee, dan layanan pembayaran lainnya.
Selain itu, kemudahan akses juga diperkuat dengan tersedianya fitur pembayaran melalui aplikasi mobile banking dan QRIS, sehingga pelanggan tidak perlu lagi datang langsung ke loket pembayaran.
Gerakan ini tidak hanya menyasar efisiensi internal, tetapi juga menjadi contoh bagi masyarakat luas dalam mendukung digitalisasi layanan publik.
“Melalui gerakan ini, kami ingin membangun budaya transaksi non-tunai di lingkungan kerja terlebih dahulu. Harapannya, ini bisa menjadi contoh dan mendorong masyarakat untuk ikut beralih ke pembayaran online yang lebih praktis dan aman,” ujarnya.
Dengan adanya Gerakan Bayar Air Online pihaknya optimis dapat meningkatkan kualitas pelayanan kepada pelanggan, sekaligus mendukung program pemerintah dalam percepatan digitalisasi sistem pembayaran di daerah.
Ke depan, pihaknya juga akan terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar semakin banyak pelanggan yang memanfaatkan layanan pembayaran online, sehingga tercipta sistem pelayanan yang lebih modern, transparan, dan efisien.
“Per tanggal 4 Mei 2026 kami resmi menutup layanan pembayaran melalui loket kasir di kantor pelayanan. Seluruh transaksi pembayaran rekening air kini dialihkan sepenuhnya ke sistem pembayaran online,” jelasnya.
Kebijakan tersebut merupakan bagian dari transformasi digital perusahaan dalam meningkatkan efisiensi operasional sekaligus kualitas pelayanan kepada pelanggan di wilayah Kutim.
Dengan sistem pembayaran online, pelanggan tidak perlu lagi datang ke kantor hanya untuk membayar rekening air. Pembayaran bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja. Digitalisasi sistem pembayaran juga menjadi bagian dari modernisasi layanan perusahaan agar semakin adaptif terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan masyarakat. Transformasi ini bukan sekadar perubahan sistem pembayaran, tetapi juga langkah modernisasi pelayanan.
“Kami ingin pelanggan merasakan kemudahan akses layanan yang lebih fleksibel dan efisien,” tutupnya.
Editor: Erwin