Pihak terkait pun bergerak cepat dengan mengeluarkan imbauan serta langkah penanganan di lapangan guna mencegah konflik antara manusia dan satwa liar tersebut.
Kapolres Kutim, AKBP Fauzan Arianto, meminta masyarakat tetap tenang namun meningkatkan kewaspadaan, terutama saat beraktivitas di sekitar area yang berpotensi menjadi jalur lintasan satwa.
“Kami mengingatkan warga agar tidak panik, tetapi tetap waspada. Batasi aktivitas di lokasi yang rawan dan segera informasikan kepada petugas apabila melihat keberadaan beruang,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya peran masyarakat dalam menjaga keselamatan bersama dengan tidak bertindak gegabah saat berhadapan dengan satwa liar.
Keselamatan harus jadi prioritas. Jangan mengambil tindakan sendiri seperti mencoba menangkap atau menyakiti.
“Karena tindakan tersebut sangat berisiko dan melanggar ketentuan perlindungan satwa,” ujarnya.
Sementara, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur (Kaltim) langsung menindaklanjuti laporan warga dengan menurunkan tim ke lokasi.
Pengendali Ekosistem Hutan Muda BKSDA Kaltim, Ahmad Ripai, menjelaskan, laporan awal diterima melalui call center pada 31 Maret 2026 lalu.
“Informasi dari masyarakat menyebutkan adanya aktivitas beruang di sekitar permukiman, bahkan ada indikasi gangguan terhadap ternak dan lingkungan sekitar,” jelasnya.
Sebagai langkah penanganan awal, tim BKSDA memasang kandang jebak di sejumlah titik yang diduga menjadi jalur perlintasan beruang. Upaya ini dilakukan untuk mengamankan satwa tanpa melukai, sekaligus mencegah potensi konflik yang lebih besar.
“Kami menempatkan perangkap di beberapa lokasi strategis. Tujuannya agar satwa bisa diamankan secara aman dan kemudian dipindahkan ke habitat yang lebih sesuai,” ungkapnya.
Selain itu, BKSDA juga memberikan edukasi kepada masyarakat terkait cara menghadapi satwa liar, khususnya beruang madu yang berstatus dilindungi.
Pihamya mengimbau masyarakat untuk tetap berkoordinasi dengan petugas serta segera melaporkan jika kembali terjadi kemunculan beruang di sekitar permukiman demi menjaga keselamatan bersama dan kelestarian satwa liar.
“Kami terus mengingatkan warga agar tidak mengganggu. Jika berpapasan cukup dihalau dengan cara yang aman tanpa kekerasan,” pungkasnya.
Editor: Erwin