Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kutim, Sulastin mengatakan, pihaknya saat ini fokus mengidentifikasi wilayah yang berpotensi tinggi terjadi karhutla, termasuk daerah dengan riwayat kebakaran dan lahan gambut.
“Kami terus melakukan pemetaan terhadap spot-spot rawan karhutla, terutama di wilayah yang selama ini sering terjadi kebakaran. Ini penting sebagai langkah awal pencegahan,” ujarnya.
Selain pemetaan, BPBD juga meningkatkan koordinasi lintas sektor serta memperkuat kesiapsiagaan di tingkat desa. Salah satu upaya yang terus didorong adalah pembentukan dan pembinaan Masyarakat Peduli Api (MPA).
Pihaknya mendorong penguatan kapasitas masyarakat dalam menghadapi potensi bencana, khususnya melalui keberadaan MPA yang berperan aktif dalam pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan.
“MPA ini menjadi garda terdepan di lapangan. Mereka yang pertama bergerak saat ada indikasi kebakaran, sehingga penanganan bisa dilakukan lebih cepat,” jelasnya.
Berdasarkan data BPBD, jumlah MPA yang dibentuk memang mengalami fluktuasi dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2020 tercatat sebanyak 31 MPA, kemudian menurun menjadi 10 MPA pada 2021. Selanjutnya pada 2022 meningkat menjadi 20 MPA, dan pada 2023 sebanyak 7 MPA.
Secara keseluruhan, hingga saat ini terdapat 68 MPA yang telah dibentuk dan mendapatkan pembinaan, tersebar di berbagai desa di Kutim.
Ia menegaskan, tanpa kesiapan masyarakat yang tangguh, risiko karhutla dapat berdampak luas, mulai dari kerusakan lingkungan hingga kerugian ekonomi yang besar.
“Kalau masyarakat tidak siap, dampaknya bisa sangat luas. Bukan hanya lingkungan yang rusak, tapi juga menimbulkan kerugian besar dan bahkan korban jiwa,” tegasnya.
BPBD juga mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar, yang berpotensi memicu kebakaran lebih besar, terutama di musim kemarau.
“Kami minta masyarakat lebih waspada. Jangan membuka lahan dengan cara dibakar karena risikonya sangat besar,” imbau dia.
Adapun sejumlah Desa bahaya tinggi karhutla yakni, Desa Muara Bengalon Kecamatan Bengalon, Desa Selangkau Kecamatan Kaliorang dan Desa Mulupan, Ngayu dan Senambah Kecamatan Muara Bengkal.
Ia menambahkan, peran aktif masyarakat sangat dibutuhkan dalam upaya pencegahan karhutla, sehingga tidak hanya bergantung pada pemerintah semata.
“Harapan kami, masyarakat bisa menjadi bagian dari solusi. Dengan adanya MPA dan kesadaran bersama, kita bisa menekan risiko karhutla,” pungkasnya.
Editor: Erwin