Langkah ini dilakukan untuk memastikan layanan air bersih tetap berjalan meski terjadi fluktuasi debit air sungai. Pihaknya telah memiliki sebanyak 24 unit intake yang dioperasikan tersebar di sejumlah wilayah.
Direktur Teknik (Dirtek) Perumdam TTBKT, Galuh Boyo Munanto menjelaskan, pihaknya telah melakukan penyesuaian desain intake agar lebih adaptif terhadap kondisi lapangan, khususnya perubahan tinggi muka air sungai.
“Kami telah menyesuaikan desain dan model intake sesuai kondisi teknis di lapangan, terutama untuk mengantisipasi naik turunnya muka air sungai,” bebernya.
Menurutnya, penggunaan model ponton atau floating menjadi solusi paling efektif, terutama di wilayah dengan karakter sungai yang dinamis seperti di kawasan Kudungga. Model ini dinilai mampu beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan tinggi muka air.
“Model ponton atau floating relatif lebih aman terhadap fluktuasi muka air baku,” katanya.
Sementara itu, untuk intake tipe tetap seperti sumuran, pihaknya telah merancangnya pada elevasi tertentu berdasarkan data historis sehingga tetap dapat beroperasi dalam kondisi normal.
“Untuk tipe tetap seperti sumuran sudah kami sesuaikan dengan elevasi aman berdasarkan data historis,” ujarnya.
Pihaknya juga menyiapkan distribusi air bersih darurat menggunakan truk tangki untuk memenuhi kebutuhan air minum warga jika sewaktu-waktu terjadi kondisi darurat.
“Kami optimis sistem intake yang ada saat ini lebih siap menghadapi kondisi cuaca ekstrem,” pungkasnya.
Editor: Erwin