Prosesi Ngesea Egung menjadi penanda dimulainya rangkaian adat Lom Plai yang sarat nilai budaya dan kearifan lokal. Kegiatan ini digelar di Desa Nehas Liang, Kecamatan Muara Wahau.
Tradisi diawali dengan pemukulan gong oleh anak laki-laki keturunan raja (hepui) sebagai simbol kehormatan dan legitimasi adat, sekaligus pembuka seluruh rangkaian kegiatan.
Dentang gong yang menggema tidak sekadar bunyi, tetapi menjadi panggilan sakral yang menandai kebangkitan tradisi dan semangat kebersamaan masyarakat.
Momen ini juga menjadi daya tarik wisata budaya yang autentik, dengan melibatkan partisipasi aktif masyarakat dalam setiap prosesi.
Rangkaian adat dilanjutkan dengan ritual rakit yang dihanyutkan menuju kampung. Prosesi ini mencerminkan kearifan lokal sekaligus menghadirkan pengalaman unik bagi masyarakat dan wisatawan yang ingin menyaksikan langsung tradisi yang terus dilestarikan dari generasi ke generasi.
Dalam kegiatan tersebut, masyarakat diperkenankan turut serta dengan menaiki rakit dan melakukan sekguet atau dorong-dorongan, khususnya bagi mereka yang memiliki kemampuan berenang. Tradisi ini menjadi simbol kebersamaan, keberanian, dan semangat gotong royong yang mempererat hubungan antarwarga.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Kutim, Akhmad Rifanie, mengatakan, Ngesea Egung bukan sekadar seremoni pembuka, tetapi memiliki makna mendalam dalam pelestarian budaya daerah. Melalui prosesi ini menunjukkan bahwa tradisi Lom Plai tetap hidup dan terus dijaga keberlanjutannya.
“Ngesea Egung ini bukan hanya seremoni pembuka, tetapi simbol kebangkitan adat dan identitas budaya masyarakat,” jelasnya.
Momentum tersebut juga menjadi peluang besar dalam mengembangkan sektor pariwisata berbasis budaya di Kutim. Kegiatan ini memiliki daya tarik yang kuat bagi wisatawan, karena menyajikan pengalaman budaya yang autentik.
“Kami berharap ini dapat menjadi magnet wisata sekaligus sarana edukasi budaya bagi generasi muda,” akunya.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga aturan adat selama prosesi berlangsung, khususnya dalam ritual rakit. Seluruh peserta wajib menjaga kondisi rakit. Bambu tidak boleh patah, terlepas atau dibuang.
“Proses ini sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai adat yang harus kita junjung bersama,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia menilai keterlibatan masyarakat dalam setiap rangkaian kegiatan menjadi kunci utama dalam menjaga kelestarian tradisi. Partisipasi masyarakat menunjukkan kuatnya nilai gotong royong dan rasa memiliki terhadap budaya.
“Ini yang membuat tradisi Lom Plai tetap lestari dan relevan hingga saat ini,” pungkasnya.
Editor: Erwin