Dalam kesempatan tersebut, ia menegaskan bahwa Idulfitri bukan sekadar perayaan seremonial, melainkan momentum penting untuk memperkuat kualitas spiritual dan memperbaiki sikap dalam kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, Idulfitri merupakan penanda kemenangan spiritual yang lahir dari proses panjang selama Ramadan, ketika umat Muslim ditempa melalui pengendalian diri, kesabaran, dan peningkatan akhlak.
“Momentum yang mulia ini merupakan anugerah besar bagi kita semua setelah sebulan penuh menunaikan ibadah Ramadan dengan kesungguhan, kesabaran dan keikhlasan,” ujar Ardiansyah.
Ia berharap nilai-nilai tersebut tidak berhenti pada perayaan semata, tetapi mampu diwujudkan dalam perilaku nyata di tengah masyarakat, termasuk dalam menjaga tutur kata dan sikap yang lebih bijak.
Ia juga menyoroti tantangan di era digital yang kian kompleks. Ia menilai derasnya arus informasi sering kali memicu polarisasi dan budaya saling menyalahkan, khususnya di media sosial. Idulfitri hendaknya menjadi titik balik untuk menghentikan perpecahan.
“Termasuk di ruang digital dengan mengedepankan tabayun, etika bermedia serta tidak mudah terprovokasi,” tegasnya.
Selain isu sosial, ia turut menggarisbawahi komitmen pemerintah daerah dalam mendorong transformasi digital pada layanan publik. Ia mengingatkan nilai kejujuran yang diajarkan selama Ramadan harus menjadi pegangan utama bagi aparatur pemerintah dalam menjalankan tugas.
“Puasa mengajarkan kejujuran yang hakiki, yakni tetap berintegritas meski tidak ada yang melihat,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya menjadikan nilai kesabaran dan kejujuran sebagai fondasi dalam menjaga persatuan masyarakat yang majemuk.
“Nilai kesabaran dan kejujuran dari madrasah Ramadan harus menjadi fondasi persatuan masyarakat Kutim yang majemuk,” pungkasnya.
Editor: Erwin