Wakil Bupati (Wabup), Mahyunadi menilai sektor sawit memiliki peran strategis sebagai bantalan ekonomi masyarakat. Terlebih ketika Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) serta pertumbuhan ekonomi daerah diprediksi menghadapi tantangan pada tahun mendatang. Sektor perkebunan masih diharapkan mampu menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat di tengah ketidakpastian global.
“Di saat kondisi ekonomi menghadapi tantangan, sektor perkebunan khususnya kelapa sawit diharapkan tetap menjadi penggerak utama yang mampu menjaga daya beli masyarakat,” ujar Mahyunadi.
Meski demikian, pihaknya mengingatkan para petani agar tetap berhati-hati dalam melakukan ekspansi lahan. Salah satu persoalan yang masih kerap muncul adalah penanaman sawit di kawasan yang masuk dalam wilayah hutan lindung maupun taman nasional.
Ia menegaskan terus berupaya memperjuangkan solusi bagi petani yang lahannya teridentifikasi masuk dalam kawasan hutan lindung melalui mekanisme regulasi dari pemerintah pusat.
“Kami terus berupaya mencari jalan keluar terbaik bagi petani yang kebunnya berada di kawasan hutan melalui mekanisme yang diatur pemerintah pusat,” sebutnya.
Pendekatan mediasi tetap menjadi langkah utama agar semua pihak mendapatkan solusi yang adil. Ia juga menegaskan komitmennya untuk mencegah terjadinya benturan antara perusahaan dan petani di lapangan.
Sebagai pihak yang lama berkecimpung dalam penanganan persoalan sawit, pihaknya berkomitmen agar tidak terjadi benturan di lapangan antara operator perusahaan dengan petani. “Jika ada masalah yang timbul, segera sampaikan dan kami siap memfasilitasi mediasi,” tegasnya.
Menurutnya, dengan adanya Forum Petani Kelapa Sawit (FPKS) di Kutim memiliki peran penting dalam menjaga kondusivitas hubungan antara petani dan perusahaan. Keberadaan forum tersebut disebut mampu membantu menurunkan potensi konflik agraria maupun sengketa harga yang sebelumnya kerap terjadi.
Ketua FPKS Kutim, Nasaruddin menegaskan, forum tersebut dibentuk sebagai jembatan komunikasi antara petani mandiri dengan perusahaan perkebunan yang beroperasi di daerah. Menjalin silaturahmi agar hubungan antara petani swadaya dan perusahaan bisa berjalan baik.
“Dengan saling mengenal secara personal, potensi perselisihan di lapangan bisa diminimalkan,” ujarnya.
Komunikasi yang baik akan mempermudah proses koordinasi apabila muncul persoalan di lapangan. Jika sudah saling mengenal dan berkomunikasi dengan baik, maka ketika ada masalah akan lebih mudah diselesaikan melalui koordinasi dan musyawarah.
Pihaknya optimis sektor kelapa sawit masih memiliki peluang besar untuk terus berkembang, terlebih dengan meningkatnya kebutuhan energi alternatif di tingkat global. Kondisi geopolitik dunia yang dinamis justru membuka peluang bagi sawit sebagai solusi energi.
“Jika dikelola dengan baik tentu ini akan berdampak pada peningkatan kesejahteraan petani,” pungkasnya.
Editor: Erwin