Jembatan ini tidak hanya menghubungkan dua wilayah yang sebelumnya terpisah sungai, tetapi juga memangkas jarak tempuh darat hingga sekitar 100 kilometer. Dampaknya, mobilitas masyarakat, khususnya warga Desa Pelawan dan sekitarnya, kini menjadi jauh lebih mudah.
Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman, menjelaskan bahwa perjalanan pembangunan jembatan ini dimulai sejak 2014, ditandai dengan proses perencanaan dan pemancangan fondasi awal.
Namun, proyek tersebut sempat mengalami penghentian sementara sebelum akhirnya dilanjutkan hingga rampung.
“Perencanaan dan pemancangan pertama dimulai tahun 2014, tetapi sejak 2016 pekerjaan terhenti. Saat itu baru sebagian fondasi bawah tiang pancang yang terbangun,” ujarnya.
Ia menyebutkan, proyek tersebut mengalami masa mati suri selama kurang lebih lima tahun sebelum akhirnya kembali dilanjutkan. Setelah diaudit teknis pada 2021, baru bisa melanjutkan pekerjaan fisik di 2022 hingga akhirnya tuntas sepenuhnya pada awal tahun 2026.
Sebelum jembatan berdiri, masyarakat setempat, khususnya di Desa Pelawan harus memutar melalui jalur Karangan dengan tambahan jarak mencapai 100 kilometer. Alternatif lain adalah menggunakan transportasi sungai yang sangat bergantung pada kondisi pasang surut air. Saat ini waktu tempuh jauh lebih efisien dan aktivitas warga menjadi lancar.
“Kalau mengandalkan jalur sungai, masyarakat harus menyesuaikan dengan pasang surut. Saat air surut bisa menunggu sampai empat jam,” jelas dia.
Secara teknis, total panjang struktur jembatan mencapai sekitar 1,2 kilometer. Konstruksi ini dilengkapi jalan akses sepanjang 3,5 kilometer di satu sisi dan 1,5 kilometer di sisi lainnya. Struktur utama menggunakan kombinasi pile slab sepanjang 135 meter dan 700 meter, serta jembatan pendekat dengan struktur girder beton.
Dalam kontrak tahun jamak 2025, penyelesaian bangunan atas di sisi Kadungan menelan anggaran Rp42 miliar, sedangkan di sisi Pelawan mencapai Rp135 miliar. Sementara itu, bentang tengah jembatan menghabiskan biaya sekitar Rp98 miliar.
Meski secara fisik pembangunan telah rampung 100 persen, pemerintah tetap akan melakukan uji beban (load test) guna memastikan keamanan struktur sebelum dilalui kendaraan berat.
“Secara konstruksi sudah selesai. Namun tetap dilakukan uji beban untuk memastikan keamanan, terutama bagi kendaraan bermuatan besar,” tegasnya.
Ia memastikan kendaraan roda empat tanpa muatan dan sepeda motor sudah dapat melintas setelah pembersihan dan penataan akhir lokasi. “Jadi bagi masyarakat sekitar yang ingin menggunakan jembatan silakan saja demi kenyamanan,” pungkasnya.
Editor: Erwin