Kepala Satuan Pelayanan Penyediaan Gizi (SPPG) Swarga Bara Tiara Rapiernia menjelaskan, skema Ramadan mulai diberlakukan pada 23 Februari pekan depan.
Penyesuaian dilakukan tanpa menghentikan layanan kepada para penerima manfaat. “Distribusi tetap mengikuti jadwal sekolah seperti biasa. Hanya bentuk paketnya yang menyesuaikan," kata Tiara kepada Korankaltim.com.
Bagi pelajar yang berpuasa mereka akan memberikan paket kering sementara yang tidak berpuasa tetap menerima makanan basah seperti hari biasa.
SPPG Swarga Bara saat ini melayani delapan satuan pendidikan dan satu posyandu. Bagi sekolah yang siswanya mayoritas beragama Islam akan menerima paket dalam bentuk kering agar dapat dikonsumsi saat berbuka puasa.
“Penyesuaian dalam bentuk paket kering agar bisa dibawa pulang. Sementara sekolah dengan penerima non-Muslim tetap mendapatkan makanan basah,” jelas Tiara.
Selain para pelajar sekolah, distribusi untuk kategori 3B juga tetap berjalan selama Ramadan. Kategori ini mencakup ibu hamil, ibu menyusui dan balita. Meski memasuki masa libur sekolah, penyaluran tetap dilakukan dua kali dalam sepekan.
“Penyaluran kami lakukan setiap Senin dan Kamis agar asupan gizi tetap terjaga,” sebut Tiara lagi.
Skema penyesuaian selama Ramadan merupakan kebijakan serentak secara nasional. Prinsipnya, layanan tidak boleh terhenti dan seluruh penerima manfaat tetap terlayani dengan baik. "Teknis pelaksanaan di lapangan kami tetap menyesuaikan kondisi yang ada," ucapnya.
Sementara Kepala SPPG APT Pranoto Dinand Ananda Perdana mengatakan mereka juga tetap melakukan penyaluran kepada penerima manfaat selama Ramadan dengan fokus awal pada balita, ibu hamil serta layanan Posyandu.
Distribusi makanan dilakukan dalam bentuk menu kering bisa bertahan lama tidak cepat basi. Menu tersebut diproduksi langsung dari dapur SPPG tanpa menggunakan bahan siap santap pabrikan.
“Menu kering ini kami produksi sendiri dari dapur SPPG untuk menjaga kualitas dan keamanan pangan sehingga tetap aman saat dikonsumsi,” jelas Dinand.
Menu kering juga akan disalurkan ke sejumlah sekolah mitra. Waktu pembagian disesuaikan agar tidak mengganggu proses belajar mengajar.
“Kami melayani enam sekolah dan satu Posyandu. Waktu distribusi kami atur agar tidak mengganggu kegiatan belajar siswa,” tambahnya.
Pihaknya menegaskan komitmen untuk tidak sekadar mengejar target program, tetapi lebih memprioritaskan kualitas gizi, keamanan pangan serta keselamatan penerima manfaat.
“Terpenting bukan hanya target penyaluran MBG tetapi, makanan yang diberikan aman dan bermanfaat bagi penerima,” pungkas Dinand.
Editor: Aspian Nur