Kondisi tersebut terungkap saat Lembaga Adat Suku Basap menyampaikan aspirasi secara langsung kepada DPRD Kutai Timur (Kutim).
Ketua Adat Suku Basap, Serin mengeluhkan kondisi pendidikan anak-anak Suku Basap yang dinilai masih sangat memprihatinkan.
Dari sekitar 100 anak usia sekolah di wilayah adat mereka, hanya satu anak yang mampu melanjutkan pendidikan hingga jenjang SMA.
“Sekitar 10 anak menamatkan pendidikan SMP, sementara selebihnya hanya lulusan SD, bahkan sebagian tidak pernah mengenyam pendidikan formal,” jelasnya.
Kondisi ini bukan karena mereka tersisih, tetapi karena belum adanya pembinaan yang berkelanjutan. Pihaknya ingin mengambil peran agar generasi Suku Basap memiliki masa depan yang lebih baik.
Selain itu, minimnya sarana pendukung pelestarian adat dan budaya Suku Basap juga menjadi sorotan. Hingga kini belum tersedia fasilitas yang memadai untuk menunjang aktivitas adat.
Kondisi infrastruktur jalan kampung yang rusak turut dikeluhkan, terlebih wilayah adat tersebut dikelilingi oleh sejumlah perusahaan yang beroperasi.
Menanggapi hal tersebut, Ketua Komisi D DPRD Kutim, Julfansyah, menegaskan pihaknya terbuka bagi seluruh elemen masyarakat, termasuk masyarakat adat. Ia memastikan seluruh aspirasi yang disampaikan akan menjadi perhatian serius.
“Kami akan memperjuangkan aspirasi ini, terutama terkait pendidikan, penguatan lembaga adat, dan pembangunan infrastruktur,” jelasnya.
Pihaknya akan menyampaikan aspirasi tersebut ke pucuk pimpinan. Jika memungkinkan akan menjadwalkan kunjungan lapangan untuk melihat langsung kondisi masyarakat adat.
“Kami mendorong agar usulan mereka terkait sarana dan prasarana pendidikan dan infrastruktur menjadi prioritas,” pungkasnya.
Editor: Erwin