Direktur Utama (Dirut) Perumdam TTBKT Suparjan mengatakan, pihaknya sudah melakukan pemantauan sekaligus perencanaan jaringan pipa sejak awal pembangunan RS tersebut.
Ada dua pilihan, yakni untuk jangka pendek dan perencanaan jangka panjang. Adapun solusi jangka pendeknya akan mengambil suplai air menggunakan mobil tangki.
"Nanti bisa suplai air. Mereka sebenarnya memiliki penampungan berkapasitas 200 meter kubik. Tapi harus dipastikan dulu agar bak penampungan itu tidak bocor," sebut Suparjan saat dikonfirmasi Senin (27/2/2023).
Sehingga pada saat proses pengantaran pihaknya meminta agar dibantu untuk menyediakan biaya transportasi. Sebab Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar yang digunakan bukan solar subsidi melainkan harga industri.
"Jangan sampai biaya BBM tersebut dibebankan lagi ke kami maka akan kewalahan," ujarnya.
Pihaknya telah sanggup menyiapkan petugas, mobil tangki dan airnya. Estimasi pengantaran dalam sehari lima kali.
Sementara, solusi jangka panjang pihaknya berharap pemerintah kabupaten melalui dinas terkait dapat mengalokasikan dana guna membangun jaringan pipa distribusi. Pihaknya pun telah membuat rencana perpipaan.
"Total anggaran yang dibutuhkan mencapai Rp 4,1 miliar. Pipa yang dibutuhkan sepanjang 5.650 meter dengan diameter pipa 160 mm,"ungkapnya.
Editor: Rusdianto