Terbatasnya pasokan hewan luar daerah memicu kenaikan harga dan stok yang ditampung para pedagang.
Jojo, pedagang hewan diJalan Pendidikan Sangatta Utara mengaku mengandalkan sapi lokal yang didatangkan dari sejumlah kecamatan di Kutai Timur dan jumlahnya juga tidak banyak.
"Tahun ini kami hanya menyetok sebanyak 89 ekor. Alhamdulillah yang sudah laku sekitar 59 ekor. Biasanya kami menyetok kisaran 120 ekor," kata Jojo kepada Korankaltim.com Selasa (14/6/2022) sore tadi.
Selama ada wabah PMK diakuinya terjadi kenaikan harga kisaran Rp740 ribu hingga satu juta rupiah per ekornya. Harga penjualan terendah berkisar Rp15 juta dan tertinggi Rp25 juta.
"Kami melihat dulu antusias pembeli. Kalau cepat laku akan menambah stok. Khawatirnya kalau langsung stok banyak akan berpengaruh biaya pakan," sebut Jojo.
Sebelumnya pedagang hewan memang sudah mendapat anjuran dari instansi terkait untuk mengutamakan stok sapi lokal guna mengantisipasi penularan wabah PMK.
"Saat ini sapi yang kami pasarkan 100 persen sapi lokal. Untuk bobot terberat 850 kilogram," tukasnya.
Sementara Haji Habang, pedagang yang berlokasi di Jalan APT Pranoto mengaku sejumlah sapi yang dipasarkan didatangkan dari pulau Sulawesi dan sebagian sapi lokal.
Tak dipungkiri akan terjadi kemerosotan jumlah stok sapi yang akan dijual imbas dari adanya wabah PMK. "Untuk pasokan sapi dari luar daerah sekitar 30 ekor dan sapi lokal 8 ekor," bebernya.
Tidak ada perbedaan harga antara sapi yang didatangkan dari luar maupun sapi lokal hanya saja jika sapi impor harus melewati proses pemeriksaan yang ketat dan membutuhkan waktu cukup lama.
"Kisaran harga Rp18 juta hingga Rp25 juta atau sesuai dengan bobot hewan per ekornya," ucap Haji Habang.
Penulis: Zulhamri
Editor: Aspian Nur