Kamis, 17/09/2026
Kamis, 17/09/2026
Pembagian masker kepada pengendara di depan Masjid Agung Sultan AM Sulaiman, Tenggarong. (Dok. Muhammad Anshori/KoranKaltim.com)
Kamis, 17/09/2026

Pembagian masker kepada pengendara di depan Masjid Agung Sultan AM Sulaiman, Tenggarong. (Dok. Muhammad Anshori/KoranKaltim.com)
Penulis: Muhammad Anshori
KORANKALTIM.COM, TENGGARONG – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kutai Kartanegara (Kukar) dan Palang Merah Indonesia (PMI) PU bersinergi membagikan sebanyak 5.000 masker kepada masyarakat pada Kamis (17/9/2026). Hal ini dilakukan sebagai bentuk kepedulian setelah kualitas udara akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kecamatan Tenggarong semakin memburuk.
Kepala Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Kukar, Sigit Imam Prasetyo, mengatakan, pihaknya menyasar empat titik yang dinilai padat oleh aktivitas masyarakat dan pelajar yang masih aktif ke sekolah hari ini.
“Kita membagikan masker di empat titik, ada di SMA 1 kawasan Masjid Agung, SMA 2, kemudian di Simpang 3 Pulau Kumala, dan Simpang 4 Unikarta,” kata Sigit.
Ia menyebut, sebanyak 5.000 masker telah disiapkan dan didistribusikan secara gratis kepada para pengendara, pelajar yang hari ini masih aktif. Berdasarkan catatan indeks standar pencemar udara (ISPU) yang dipantau oleh BPBD Kukar, kualitas udara hari ini berada di angka 210,5. Angka itu menunjukkan kondisi udara telah masuk ke dalam kategori tidak sehat.
“Kualitas udara kita di angka 210,5, ini sudah tidak bagus. Kondisi ini sudah sejak kemarin dan hari ini pandangan mulai tidak jelas,” jelasnya. Ia menerangkan, pekatnya kabut asap ini dipicu oleh Karhutla di sejumlah titik yang berada tidak jauh dari kawasan Tenggarong, seperti kebakaran di Loa Tebu serta Loa Kulu. Selain itu, guyuran air pada lahan yang terbakar justru menimbulkan kepulan asap yang jauh lebih pekat dan menyelimuti pemukiman warga. “Guyuran air juga bisa menyebabkan kepulan asap seperti saat ini,” sebutnya.
BPBD Kukar memperkirakan kondisi asap pekat ini berlangsung hingga empat hari ke depan. Penurunan intensitas asap bergantung pada faktor cuaca, hujan deras dinilai dapat membersihkan pertikel asap di udara, sebaliknya, jika tidak kunjung turun hujan, titik karhutla dipantau masih mengalami peningkatan dan asap lama akan hilang.
Ia mengimbau kepada seluruh lapisan masyarakat untuk tidak memperparah keadaan, sebab, sebagian besar kasus karhutla dipicu oleh faktor kelalaian atau kesengajaan manusia yang membuka lahan dengan cara dibakar. “Sampai saat ini kalau kita lihat masih bertambah titik api karhutla.
Kami imbau untuk masyarakat supaya tidak membakar lahan. Ini kan sebetulnya bukan akibat hutan terbakar sendiri, berarti ada penyebabnya. Tolong jangan membakar hutan dan lahan,” tutupnya.
Editor: Erwin
Kamis, 17/09/2026
Pembagian masker kepada pengendara di depan Masjid Agung Sultan AM Sulaiman, Tenggarong. (Dok. Muhammad Anshori/KoranKaltim.com)
TERPOPULER