Kamis, 17/09/2026
Kamis, 17/09/2026
Rekapan data kasus ISPA per Juli, Agustus, September 2026. (Foto: rsudamp.dok/Mauritz Silalahi)
Kamis, 17/09/2026

Rekapan data kasus ISPA per Juli, Agustus, September 2026. (Foto: rsudamp.dok/Mauritz Silalahi)
Penulis: Muhammad Heriansyah
KORANKALTIM.COM, TENGGARONG - Kabut asap yang muncul akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Kutai Kartanegara (Kukar) mulai berdampak terhadap kesehatan masyarakat.
Direktur RSUD Aji Muhammad Parikesit (AM Parikesit) Tenggarong Mauritz Silalahi mengungkapkan, terdapat peningkatan kasus gangguan kesehatan, termasuk infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), di tengah kondisi udara yang kurang baik akibat kabut asap.
Namun tidak seluruh kasus harus mendapatkan penanganan di rumah sakit. Sebagian masyarakat dengan keluhan kesehatan masih dapat memperoleh penanganan awal melalui fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama.
“Ada peningkatan, tapi tidak semuanya masuk rumah sakit. Namun ada beberapa kasus yang memang harus dirujuk ke rumah sakit,” kata Mauritz kepada Korankaltim.com, Kamis (17/9/2026).
Sebagai rumah sakit rujukan, RSUD AM Parikesit saat ini berada pada posisi menerima pasien yang membutuhkan penanganan lebih lanjut. Sementara penanganan awal masyarakat dengan keluhan akibat paparan asap tetap menjadi bagian dari layanan fasilitas kesehatan tingkat pertama.
Mauritz mengatakan pihaknya juga terus melakukan komunikasi dan koordinasi dengan fasilitas kesehatan lainnya untuk memastikan sistem rujukan berjalan dengan baik.
Menghadapi kondisi kabut asap dan kekeringan, Mauritz mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap gangguan kesehatan. RSUD AM Parikesit telah melakukan sosialisasi melalui media sosial mengenai langkah pencegahan yang dapat dilakukan masyarakat selama terjadi kebakaran hutan dan lahan.
Satu diantara langkah yang disarankan adalah mengurangi aktivitas di luar ruangan yang tidak memiliki manfaat mendesak. “Yang ideal sebenarnya mengurangi kegiatan-kegiatan di luar yang tidak bermanfaat,” sebutnya.
Jika mengalami gangguan kesehatan, masyarakat juga diminta tidak mengabaikan gejala yang muncul. Penanganan dapat dimulai dengan mendatangi puskesmas atau fasilitas kesehatan tingkat pertama. Apabila ditemukan kondisi yang membutuhkan penanganan lebih lanjut atau membahayakan, pasien dapat dirujuk ke rumah sakit.
Masyarakat yang terpaksa harus beraktivitas diluar ruangan diingatkan agar menggunakan masker sebagai perlindungan tambahan dari paparan asap.
Namun, penggunaan masker perlu disesuaikan dengan kondisi paparan. Untuk situasi yang berkaitan dengan asap kebakaran, ia menyarankan penggunaan masker yang memiliki kemampuan filtrasi lebih baik, seperti N95.
“Kalau memang terpaksa berkegiatan di luar, memakai masker. Untuk masker dalam kondisi kebakaran, kita usahakan masker yang memang sesuai, seperti N95,” papar Mauritz.
Masyarakat perlu memperhatikan kondisi tubuh selama berada di tengah paparan kabut asap. Keluhan kesehatan yang muncul sebaiknya segera diperiksa agar tidak berkembang menjadi kondisi yang lebih serius. RSUD AM Parikesit sendiri terus berkoordinasi dengan jaringan pelayanan kesehatan di Kukar dalam menghadapi dampak kesehatan akibat kondisi karhutla.
Mauritz berharap masyarakat dapat lebih disiplin mengurangi paparan asap dengan membatasi aktivitas di luar ruangan dan segera mencari pertolongan medis apabila mengalami keluhan kesehatan.
“Kalau ada kondisi-kondisi yang mengganggu kesehatan, segera berobat, setidaknya ke puskesmas atau fasilitas kesehatan tingkat pertama,” tutup Mauritz.
Editor: Aspian Nur
Kamis, 17/09/2026
Rekapan data kasus ISPA per Juli, Agustus, September 2026. (Foto: rsudamp.dok/Mauritz Silalahi)
TERPOPULER