Koordinator Lapangan (Korlap) Pemadaman Kebakaran, Muhammad Irawan menjelaskan, kebakaran telah terjadi sejak Minggu (11/9/2026) dua hari lalu, hingga saat ini beberapa titik api masih berkobar menghanguskan lahan yang ada disekitarnya.
"Setelah kami cek mayoritas lahan sawit milik warga yang terbakar, untuk ukurannya ada puluhan hekatare, kami belum bisa tentukan berapa ukuran pasti lahan yang hangus itu," kata Muhammad Irawan kepada Korankaltim.com Selasa (15/9/2026) hari ini.
Minimnya akses menuju lokasi titik api jadi kendala dalam penagangan karhutla ini. "Jalur darat ke titik api baru terbuka setengah dari kemarin, sementara ada beberapa titik yang sulit untuk kami jangkau," paparnya.
Hingga saat ini, upaya pemadaman masih terus dilakukan bersama tim gabungan yang terdiri dari Didamkar Matan, BPBD, Relawan Kukar dan pihak perusahaan untuk menyisir perbatasan supaya tidak meluas.
Dalam upaya pemadaman ini pihaknya menurunkan enam armada tangki air, satu dari Damkar Matan dan dua dari BPBD Kukar dibantu oleh perusahaan.
"Kami masih siaga di Bengkinang untuk memantau pergerakan api. Hembusan angin yang berputar juga jadi kendala dalam penanganan karhutla ini. Kami harap Helikopter Water Bombing dapat menjangkau titik api di atas bukit itu," harapnya.
Terpisah, Korlap BPBD Kukar Eko Suryawinata menjelaskan, terkait dukungan logistik dan peralatan serta unit pemadam, pihaknya telah berkoordinasi dengan BNPB pusat dan disanggupi untuk menyuplai bantuan seperti mesin air portebel.
"Peralatan itu disiagakan di Samarinda ada juga di IKN, nanti juga ada modifikasi cuaca seperti hujan buatan," kata Eko.
Helikopter Water Bombing ini disediakan hanya satu unit dari Pemerintah Pusat untuk membackup seluruh titik api kebakaran yang sulit dijangkau di Kukar.
"Kami belum koordinasi terkait penambahan unit Water Bombing, saat ini fokus menjangkau titik-titik api di wilayah hulu Kukar termasuk Tenggarong," jelasnya.
Sementara itu dampak akibat karhutla ini mulai memicu keluhan dari warga Loa Tebu. Budi, warga setempat sangat menyayangkan apabila ada oknum yang dengan sengaja membuka lahan dengan cara Dibakar karena dampak asapnya sangat dirasakan oleh warga sekitar kawasan Bengkinang dan Batu Dinding, kemudian aktfitas belajar mengajar menjadi terganggu.
"Hari ini anak-anak sekolah dipulangkan lebih cepat karena asap semakin tebal. Kami harap warga pemilik lahan dapat meningkatkan kesadarannya supaya tak melakukan pembakaran yang dapat merugikan banyak orang," jelas Budi.
Editor: Aspian Nur