Longsor Susulan Mengintai Dusun Margasari Jembayan, 18 Jiwa Harus Diungsikan
2 menit baca0 kali dibaca

Penulis: Muhammad Anshori
KORANKALTIM.COM, TENGGARONG - Ancaman longsor susulan di Dusun Margasari, Desa Jembayan, Kecamatan Loa Kulu, Kutai Kartanegara, masih mengintai rumah warga sekitar bantaran anak Sungai Mahakam.
Mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, sebanyak 18 jiwa terpaksa harus diungsikan karena tanah terus bergerak.
Tak hanya mengungsi, upaya mengantisipasi dampak tanah bergerak membuat warga terpaksa melakukan pembongkaran rumah mereka secara mandiri. Selain itu ada dua bangunan gedung pakan milik warga lainnya yang juga ikut dibongkar akibat adanya retakan pada tanah.
Kepala Dusun Margasari Haerudi mengatakan, dari hasil pemetaan yang dilakukan oleh tim PUPR, tanah mengalami penurunan dari 28 sentimeter menjadi 38 sentimeter. Kondisi ini semakin memprihatinkan akibat gempuran arus bawah sungai saat surutnya air.
"Ada 18 jiwa dari lima KK (Kepala Keluarga) harus mengungsi, mereka menyewa rumah di wilayah Dusun Margasari ini juga," kata Haerudi, Selasa (15/9/2026).
Sewa biaya tempat pengungsian atau kontrakan hingga saat ini masih ditanggung secara mandiri oleh warga yang terdampak.
"Warga masih memilih tetap tinggal di kontrakan dekat rumah mereka karena ada beberapa barang yang masih belum dikeluarkan, nanti kalau sudah ada tempat permanen warga akan langsung pindah," jelasnya.
Sementara sebagai upaya meringankan beban warga terdampak, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (DPMD) Kukar telah memberikan bantuan berupa sembako, peralatan tidur dan perlengkapan kesehatan.
"Kami pastikan bantuan itu sudah disalurkan dan diterima warga terdampak," sebut Haerudi.
Pihak dusun dan desa telah beberapa kali melakukan koordinasi kepada pemerintah melalui rapat gabungan yang dilakukan pada Jumat (11/9/2026) pekan lalu untuk membahas percepatan pasca penanganan di lokasi tersebut.
"Bupati Kukar menginstrusikan percepatan penanganan, tapi realisasi fisik masih terhambat. Untuk proyek pemasangan jembatan sementara juga terkendala karena status lahan ini jalan provinsi di bawah PUPR dan memerlukan kucuran dana dari pemerintah pusat," sebutnya.
Di sisi lain, saluran pipa PDAM yang berada di zona merah telah dipindahkan ke lokasi yang lebih aman serta jalan alternatif agar warga dapat melintas akan segera rampung dalam waktu dekat.
"Pipa PDAM yang sebelumnya hancur telah kami pindah ke tempat aman jauh dari longsor dan disalurkan ke rumah warga, kemudian, jalur alternatif sudah diuruk dan ditumpuk batu koral. Dalam satu sampai dua hari ini jalan akan dibuka," tutup Haerudi.
Editor: Aspian Nur










