Kegiatan tersebut menjadi ruang berkumpulnya masyarakat sekaligus penghormatan kepada para tamu undangan, di antaranya Bupati Kukar, Kesultanan Kutai Kartanegara, Forkopimda, tokoh masyarakat, alim ulama serta tokoh adat.
Festival Adat Cerau Kampong Tuha Kelampak ini juga tidak lepas dari peran Kepala Tokoh Adat Desa Menamang Kanan, Kadir, sebagai inisiator kegiatan.
Kadir menyampaikan rasa terima kasih dan penghargaan kepada Pemerintah Kabupaten Kukar, Kesultanan Kutai Kartanegara, Forkopimda, tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh adat serta seluruh masyarakat yang telah memberikan dukungan hingga Festival Adat Cerau Kampong Tuha Kelampak 2026 dapat terlaksana.
“Terima kasih atas dukungan Pemerintah Kabupaten Kukar dan seluruh pihak yang telah membantu sehingga kegiatan Festival Adat Cerau ini bisa terlaksana. Ini merupakan kebanggaan bagi kami masyarakat Menamang Kanan,” kata Kadir kepada Korankaltim.com, Senin (14/9/2026).
Menurutnya, pelaksanaan Cerau bukan sekadar kegiatan seremonial maupun hiburan masyarakat. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi upaya bersama untuk menghidupkan kembali nilai-nilai adat dan budaya yang diwariskan para leluhur.
Kadir berharap dukungan terhadap kegiatan adat dan budaya di Kampong Tuha Kelampak dapat terus berlanjut. Sebab, keberadaan adat dan budaya merupakan bagian penting dari identitas masyarakat yang harus diperkenalkan kepada generasi muda.
“Kami berharap kegiatan seperti ini bisa terus dilaksanakan dan semakin berkembang. Yang paling penting, anak-anak dan generasi muda kita mengenal adat dan budaya yang ada di kampungnya sendiri,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Desa Menamang Kanan, Amri, mengatakan Cerau Kampong Tuha Kelampak menjadi momentum bagi masyarakat untuk kembali mengingat asal-usul dan jati diri.
“Hari ini kita berkumpul untuk mengingat siapa kita, mengingat dari mana kita berasal dan mengingat apa yang harus kita wariskan kepada generasi yang akan datang,” ucap Amri.
Ia menegaskan, Kampong Tuha Kelampak bukan sekadar tempat tinggal masyarakat. Kawasan tersebut merupakan bagian dari identitas yang menyimpan sejarah perjalanan kehidupan para pendahulu.
“Di sinilah para pendahulu kita membangun kehidupan, di sinilah para orang tua kita membesarkan keluarga. Di sinilah kita belajar kebersamaan, gotong royong, penghormatan kepada orang tua, kepedulian terhadap sesama dan nilai-nilai kehidupan yang diwariskan dari generasi ke generasi,” jelasnya.
Menurut Amri, seluruh nilai tersebut merupakan kekayaan yang tidak dapat diukur secara materi. Karena itu, pada pelaksanaan Cerau tahun ini masyarakat mengangkat tema “Mempertahankan Adat dan Budaya Kampong Tuha Kelampak”.
Ia menyadari perkembangan zaman dan teknologi telah membawa perubahan besar terhadap kehidupan masyarakat. Generasi muda saat ini tumbuh dalam dunia yang semakin terbuka.
Namun, menurutnya, kemajuan tidak boleh membuat masyarakat kehilangan jati diri.
“Kita tentu menyambut kemajuan. Kita tidak boleh takut terhadap perubahan. Namun, ada sesuatu yang tidak boleh berubah, yaitu jati diri kita,” tegas Amri.
Ia menilai mempertahankan adat dan budaya bukan hanya menjadi tugas tokoh adat, sesepuh atau pemerintah. Pelestarian budaya merupakan tanggung jawab seluruh elemen masyarakat.
Orang tua memiliki tanggung jawab mengenalkan adat kepada anak-anak. Para tokoh memberikan teladan, masyarakat menjaga nilai kebersamaan, sementara generasi muda memiliki tanggung jawab untuk meneruskan warisan tersebut.
“Kita tidak ingin anak cucu kita kelak hanya mengetahui nama Kampong Tuha Kelampak, tetapi tidak mengenal adat dan budayanya. Kita juga tidak ingin budaya kita semakin lama semakin hilang,” ujarnya.
Karena itu, ia mengajak seluruh masyarakat memperkuat komitmen untuk menjaga adat, melestarikan sejarah, mendokumentasikan kebudayaan dan melibatkan generasi muda dalam setiap kegiatan adat.
Amri berharap Cerau Kampong Tuha Kelampak dapat menjadi jembatan antara generasi tua dan generasi muda, sekaligus penghubung antara sejarah masa lalu dengan masa depan.
“Saya percaya Kampong Tuha Kelampak memiliki masa depan yang baik selama masyarakatnya masih mau bersatu, generasi mudanya masih peduli, para sesepuh masih menjadi sumber teladan dan kita semua masih memiliki cinta terhadap kampung ini,” terangnya.
Ia menambahkan, tidak ada warisan yang lebih berharga daripada jati diri. Karena itu, penghormatan terbaik kepada para leluhur bukan hanya dengan mengenang nama mereka, tetapi dengan menjaga apa yang telah diwariskan.
“Mari kita buktikan bahwa Kampong Tuha Kelampak mampu maju tanpa kehilangan identitas, menghadapi masa depan tanpa melupakan sejarah dan tetap berdiri di atas nilai adat dan budaya,” jelasnya.
Bagi masyarakat Menamang Kanan, Cerau Kampong Tuha Kelampak 2026 diharapkan bukan menjadi kegiatan sesaat. Semangat yang dibangun menjadi pijakan bersama untuk memastikan adat tetap hidup, budaya terus dikenal dan nilai-nilai leluhur tetap menjadi bagian dari kehidupan generasi mendatang.
“Adat adalah identitas, budaya adalah jati diri, sejarah adalah akar dan generasi muda adalah masa depan,” pungkasnya.
Editor: Erwin