Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kukar, tren kenaikan kasus sudah mulai terlihat sejak Juni 2026 yakni sebanyak 3.700 kasus. Angka tersebut kemudian melonjak sekitar 7.000 pada Juli, dan memuncak di Agustus dengan total mencapai 9.075 kasus.
"Kenaikannya sangat tinggi. Kasus ini mendominasi karena penyakit-penyakit yang disebabkan oleh polusi udara akibat kabut asap kaehutla," kata Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kukar Ismi Mufiddah, Kamis (3/9/2026).
Ada dua kelompok usia yang mendominasi pada penderita ISPA yakni kelompok pada usia 18 hingga 59 tahun dengan jumlah total sekitar 3.000 kasus. Sementara kelompok kedua adalah usia anak sekolah dari usia lima hingga 18 tahun sekitar 2.950 kasus. Tingginya angka pada dua kelompok usia ini disebabkan oleh tingginya mobilitas mereka di luar ruangan.
"Secara geografis, wilayah perkotaan dan kawasan padat penduduk ini jadi penyumbang kasus paling tinggi," sebutnya.
Selain itu, ada lima wilayah Puskesmas dengan laporan kasus ISPA tertinggi berada di Loa Ipuh, Rapak Mahang, Sanga-Sanga, Samboja, dan Loa Janan.
Merespons situasi tersebut, Pemerintah Kabupaten Kukar telah mengeluarkan Surat Edaran (SE) Bupati terkait langkah pencegahan dampak kabut asap. Salah satu poin yang sedang direncanakan adalah pengalihan sistem belajar mengajar anak sekolah menjadi pembelajaran jarak jauh atau daring.
Dinkes Kukar mengimbau kepada masyarakat agar segera mengurangi aktivitas diluar rumah serta wajib menggunakan masker jika terpaksa harus keluar ruangan. Mengkonsumsi air putih dan menjaga daya tahan tubuh dengan makanan sehat. Menutup rapat pintu dan jendela rumah saat kabut asap menebal.
"Masyarakat juga dilarang keras membakar sampah atau daun kering yang dapat memperparah polusi dan mengurangi aktivitas merokok di dalam rumah supaya tam menambah polusi," papar Ismi.
Dinkes Kukar telah berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk menyalurkan masker, terutama menyasar kelompok-kelompok rentan dan momentum tertentu seperti kegiatan di lapangan. Melonjaknya angka pasien ISPA secara beruntun sudah menjadi indikator nyata bahwa kondisi udara sedang tidak sehat dan memerlukan kewaspadaan penuh dari seluruh lapisan masyarakat.
Editor: Aspian Nur