Kepala Desa Kota Bangun Ulu Khairul Umam mengungkapkan, pergeseran tanah di sepanjang pinggiran Sungai Mahakam ini sebenarnya merupakan fenomena tahunan hanya saja kondisi tahun ini terpantau jauh lebih parah akibat hantaman musim kemarau yang berkepanjangan.
"Pergerakan tanah ini sudah jadi langganan setiap tahun, khususnya saat memasuki bulan Agustus dan September. Tetapi, 2026 ini kondisinya jauh lebih parah karena kemarau panjang. Demi menjaga hal-hal yang tidak diinginkan, jembatan penghubung terpaksa kami tutup sementara waktu," kata Khairul, Rabu (2/9/2026).
Penutupan fasilitas umum ini dilakukan setelah struktur jembatan sepanjang 150 meter dengan lebar dua meter tersebut mengalami kemiringan akibat tanah di bawahnya longsor. Turunan jembatan yang menjadi sangat curam bahkan telah memicu satu kasus kecelakaan yang menimpa seorang anak akibat terjatuh saat melintas.
Penutupan akan terus diberlakukan hingga pergerakan tanah kembali stabil dan perbaikan konstruksi selesai dilakukan. Untuk mobilitas harian, warga sementara dialihkan ke jalur alternatif melalui jalan gang-gang di area permukiman lokasi lainnya.
Dampak pergeseran tanah ini juga meluas ke area wisata kuliner Tepian Indah yang menjadi pusat keramaian warga. Titik longsor terparah ditemukan tepat di wilayah RT15 dan 16.
"Untuk area di depan panggung kawasan wisata kuliner Tepian Indah kami tutup total karena kerusakannya paling parah. Sementara untuk lapak kuliner di titik lain yang masih aman tetap diperbolehkan buka," sebut Khairul lagi.
Secara keseluruhan, titik pergerakan tanah tersebar dari RT 12, 13, 14, 15, hingga 16. Bahkan monitoring terbaru menunjukkan tanda-tanda pergeseran tanah juga mulai muncul di wilayah RT1. Meskipun pergerakan tanah terus terjadi, pihaknya memastikan area utama rumah-rumah warga di sepanjang pinggiran sungai masih dalam kondisi aman dan layak ditinggali. Kerusakan umumnya baru terjadi pada struktur bagian dapur yang posisinya menjorok ke arah sungai.
"Rumah warga masih bisa ditempati untuk aktivitas sehari-hari. Hanya saja, rata-rata bagian dapurnya mulai tertarik akibat pergeseran tanah ke arah sungai Mahakam. Kami juga sudsh meminta seluruh warga Kota Bangun Ulu, tidak hanya di RT 12 sampai 16, untuk waspada," ujarnya.
Mengingat kejadian ini terus berulang setiap tahun, Pemdes Kota Bangun Ulu telah mengajukan pembangunan jembatan layang kepada Pemkab Kukar serta Pemerintah Pusat untuk segera merealisasikan pembangunan infrastruktur yang permanen.
Pemdes telah berulang kali mengajukan usulan pembangunan jembatan layang atau jembatan gantung sejak dirinya menjabat pada tahun 2023. Usulan tersebut bahkan sempat ditinjau langsung oleh anggota DPR RI saat itu, Irwan Fecho, namun hingga kini belum ada realisasi fisik di lapangan.
"Kalau hanya membangun jalan ini biasa secara terus-menerus, strukturnya pasti akan kembali turun dan miring saat tanah bergerak. Solusi jangka panjangnya adalah jembatan layang atau jembatan gantung agar konstruksinya aman dari pergeseran tanah," tegas Khairul.
Sebagai langkah cepat mitigasi di tingkat tapak, Pemdes Kota Bangun Ulu kini telah mendirikan Posko Penanganan Longsor. Posko ini berfungsi sebagai pusat pengaduan, kedaruratan, serta penanganan dampak bagi warga yang terdampak langsung oleh pergeseran tanah.
Warga yang mengalami kendala logistik, kerusakan bangunan yang membahayakan, atau membutuhkan bantuan evakuasi diimbau untuk segera menghubungi petugas di posko desa yang telah disiagakan.
Editor: Aspian Nur