Sekitar 350 jemaat mengikuti kegiatan ibadah penyembahan dan doa bersama tersebut mulai pukul 07.00 WITA. Suasana khidmat terasa ketika jemaat bersama-sama memanjatkan doa agar hujan segera turun, mengakhiri kekeringan, memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta memulihkan ketersediaan air bagi masyarakat.
Kegiatan ini turut dihadiri Direktur RS AM Parikesit Mauriz Silalahi yang mewakili Bupati Kukar, Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kukar Ananias, Kepala Sub Bagian Protokol dan Pimpinan Kukar Markus Widjaja serta Staf Ahli Bupati Kukar Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Martina Yulianti.
Hadir pula jajaran Asosiasi Pendeta Indonesia Kukar, tokoh agama Kristiani se-Kecamatan Tenggarong, ASN umat Kristiani di lingkungan Pemkab Kukar, para guru, serta pelajar mulai dari SD, SMP dan SMA se-Kecamatan Tenggarong.
“Kekeringan ini tidak hanya memicu terjadinya kebakaran hutan dan lahan di beberapa titik wilayah, tetapi juga menyusutkan sumber daya air bersih yang berdampak langsung pada sektor pertanian, perikanan, serta aktivitas keseharian masyarakat,” kata Mauriz mewakili bupati.
Data sebaran karhutla menunjukkan sejumlah wilayah Kukar terdampak cukup serius. Di Kecamatan Sanga-Sanga, luas lahan terbakar mencapai 340 hektare. Kemudian Muara Kaman 130 hektare, Samboja 126 hektare, Muara Badak dengan 20 kejadian dan akumulasi lahan terbakar 107,25 hektare, serta Kecamatan Tabang dengan luas lahan terbakar mencapai 100 hektare.
Pemerintah Kabupaten Kukar bersama TNI, Polri, BPBD, relawan dan instansi terkait terus melakukan berbagai langkah penanganan di lapangan. Mulai dari pemadaman titik api, penyaluran bantuan air bersih, hingga menyiagakan posko kebencanaan.
Namun ditengah berbagai ikhtiar tersebut, doa juga menjadi bagian penting bagi masyarakat dalam menghadapi kondisi alam yang semakin kering.
“Sebagai insan beriman kita menyadari sepenuhnya bahwa manusia terbatas, dan kita sangat membutuhkan campur tangan serta pemulihan dari Tuhan Sang Pencipta,” lanjutnya.
Doa bersama umat Kristiani di Taman Tanjong juga menjadi bagian dari semangat kebersamaan lintas agama dalam menghadapi bencana kekeringan di Kukar karena pada waktu yang bersamaan, umat Islam melaksanakan Salat Istisqa di Lapangan Kantor Bupati Kukar. Sementara umat Hindu dan Buddha turut memanjatkan doa di rumah ibadah masing-masing.
“Melalui ibadah doa dan penyembahan pagi ini, mari kita merendahkan hati di hadapan Tuhan, memohon belas kasih-Nya agar Dia membuka tingkap-tingkap langit dan mencurahkan hujan rahmat-Nya, hujan pemulihan yang menyegarkan bumi Kutai Kartanegara,” pesan tersebut disampaikan kepada seluruh jemaat.
Rangkaian kegiatan diawali pembukaan oleh pembawa acara, pembacaan pengantar doa umat Kristiani, doa pembukaan, penyembahan dan pujian yang dipimpin GBI Rock, dilanjutkan sambutan Bupati Kukar. Jemaat kemudian mengikuti doa syafaat dan bersama-sama mengucapkan doa Bapa Kami. Rangkaian ibadah ditutup dengan pujian akhir serta doa berkat.
Editor: Aspian Nur