Kepala Dusun Margasari, Haerudi, mengatakan pergerakan tanah mulai terlihat semakin jelas sejak dini hari. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut karena penghuni rumah sempat menyelamatkan diri sebelum bangunan ambruk.
Namun, kondisi tersebut memaksa warga terdampak mengemasi barang-barang mereka dan mengungsi ke rumah kerabat yang dinilai lebih aman.
“Rumah warga kami hancur dan larut ke sungai. Ada satu rumah yang larut, beruntung warga sempat keluar dari rumah, pergeseran tanah ini terjadi tidak langsung membuat rumah ambruk,” ungkapnya.
Di sisi lain, warga setempat menilai penanganan longsor oleh pemerintah berjalan lambat. Berdasarkan informasi yang diterima warga, proyek penanganan longsor tersebut ditargetkan selesai dalam waktu dua bulan.
Namun, hingga saat ini penanganan di lokasi baru berupa pemancangan dan perapian awal. Kondisi itu membuat warga khawatir pergeseran tanah kembali meluas.
Warga juga mengkhawatirkan aliran air bawah tanah yang disebut semakin deras dapat memperluas area longsor apabila penanganan tidak segera diselesaikan.
Haerudi mengatakan pergeseran tanah masih berpotensi meluas, terutama di sekitar permukiman yang berada di bantaran Sungai Mahakam.
“Kami imbau warga untuk tetap waspada terkait pergeseran tanah sudah menjangkau rumah bagian bantaran sungai,” sebutnya.
Untuk mengantisipasi terputusnya akses mobilisasi warga, jalan alternatif telah berhasil ditembus dan diberi pengerasan batu.
“Kendaraan kecil sudah aman untuk melintas. Untuk kendaraan besar belum kami izinkan lewat demi keamanan,” pungkasnya.
Editor: Erwin