Bupati Kukar Aulia Rahman Basri menegaskan, tim di lapangan bergerak cepat melakukan verifikasi. Hasil pengecekan menunjukkan ada sekitar 50 titik api riil yang mendesak untuk segera ditangani karena intensitasnya yang besar.
"Dari hasil pantauan kami ada sekitar 50 titik api. Titik-titik api yang besar juga ada ini perlu perhatian khusus dalam penanganannya," kata Aulia Rahman, Senin (31/8/2026).
Suhu ekstrem dan angin kencang membuat kondisi kebakaran bisa berubah fatal dalam hitungan menit. Upaya mengantisipasi hal itu, Pemkab Kukar langsung mendorong pembentukan pos terpadu karhutla hingga ke tingkat desa dan kelurahan. Aulia menyebit, strategi ini memangkas birokrasi dan mempercepat waktu respons penanganan di titik paling dekat dengan lokasi kejadian kebakaran.
"Kami sudah bentuk pos terpadu di wilayah yang memang rawan, koordinasi ini akan terus berjalan dan kita pantau terus perkembangannya," sebut Aulia lagi.
Tantangan ini diprediksi masih panjang dan diperkirakan musim kemarau akan berlangsung hingga Oktober 2026, bahkan berpotensi mulur sampai November jika intensitas hujan tidak turun.
Penanganan Karhutla bukan hanya tugas BPBD atau Disdamkar Matan. Sinergi lintas sektor dan kesadaran masyarakat merupakan kunci utama dalam menangani insiden kebakaran yang terjadi di setiap wilayah. Ancaman dari kebakaran ini bukan hanya berdampak kepada kerusakan alam, tetapi juga bahaya kabut asap yang siap mengancam kesehatan pernapasan warga.
"Kita harap ada turun hujan, penanganan karhutla pasti akan lebih ringan," ucap Aulia.
Masyarakat diminta menghentikan kebiasaan membuka atau membersihkan lahan dengan cara dibakar. Melalui penguatan sistem dari tingkat desa hingga kabupaten, Pemkab Kukar berharap seluruh titik api dapat dipadamkan sejak dini sebelum berubah menjadi bencana yang tidak lebih besar.
Editor: Aspian Nur